Teladan ulama ubah pusat maksiat jadi poros ibadah tertua Samarinda

3 hours ago 2
Gema azan dari menara masjid itu seakan terus mengingatkan warga Samarinda bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari oleh cahaya iman

Samarinda (ANTARA) - Tempo dulu, sebuah monumen berdiri dengan beragam kisah nan filosofis. Ceritanya bahkan menembus era dari generasi ke generasi, sarat dengan nilai-nilai moral, terlebih jikalau bangunan itu berdiri awet dan terus dimakmurkan hingga kini.

Nilai moral semacam itu lah yang selalu terpatri di balik bangunan rumah ibadah tertua di Kota Samarinda. Masjid Shirathal Mustaqiem adalah narator dalam ceritera kampung maksiat yang menjelma jadi pusat peribadatan dan adab masyarakat Kota Tepian.

Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid Samarinda Seberang itu pada penghujung abad ke-19 bukanlah sebuah tempat untuk merapalkan doa. Riwayat tutur masyarakat setempat secara turun-temurun mengisahkan bahwa area tersebut pernah menjadi pusat kemelut moral.

"Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya. Tempat ini dulunya adalah kampung maksiat yang pekat tenggelam dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi," kata Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, saat berbincang di area masjid tersebut.

Dari kisah masa silam, sebuah karomah dan tekad dari seorang ulama pendatang perlahan menyibak kabut gelap itu, mengubah sebuah sarang maksiat menjadi pusat cahaya ibadah yang cahayanya masih benderang hingga hari ini.

Legenda ini berpusat pada sosok karismatik bernama Said Abdurachman bin Assegaf atau digelar sebagai Pangeran Bendahara. Ia adalah seorang bangsawan, pendakwah, sekaligus saudagar muslim keturunan Arab yang berasal dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.

Mengarungi pesisir Kalimantan dan menyusuri sungai-sungai besar, kapalnya akhirnya berlabuh di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Pada awalnya, Samarinda Seberang hanyalah pelabuhan persinggahan dan tempat tinggal sementara bagi Said Abdurachman. Tujuannya murni berniaga, membawa barang dagangan dan mencari penghidupan di rute perdagangan Nusantara yang tengah ramai oleh kapal-kapal asing maupun lokal.

Selama menetap dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, mata batin Said Abdurachman menangkap sebuah realitas yang menggugah nuraninya. Di balik pekatnya kemaksiatan yang menyelimuti kampung tersebut, ia melihat secercah harapan. Sang ulama menyadari bahwa posisi Samarinda Seberang sebenarnya sangat strategis, sebuah urat nadi perdagangan yang memiliki potensi raksasa sebagai pusat penyebaran dan syiar agama Islam di tanah Kutai.

"Niat murni untuk berdagang perlahan bergeser menjadi panggilan jiwa. Said Abdurachman memutuskan untuk menetap. Bukan lagi sekadar untuk berniaga, melainkan untuk mengembangkan syiar dan kajian cendekia Islam di tengah masyarakat yang tengah tersesat kala itu," tutur Mazbar.

Gelar Pangeran Bendahara

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |