Strategi Pemerintah cetak santri jadi talenta digital berdaya saing

2 days ago 5

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan strategi Indonesia untuk mencetak para santri dapat menjadi talenta digital unggul dan berdaya saing.

Mulai dari membuka peluang kolaborasi dengan pesantren sebagai rumah kedua para santri serta memperluas akses pelatihan maupun sertifikasi digital menjadi strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

"Kita memiliki pelatihan digital yang dapat diikuti secara daring dan berujung pada sertifikasi kompetensi yang berguna untuk memasuki dunia kerja," ujar Nezar dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Baca juga: PP TUNAS berlaku, Kemenag perkuat literasi digital bagi siswa & santri

Komitmen untuk menjalankan strategi itu juga disampaikan Nezar saat menerima audiensi Bina Usaha Nahdliyin di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (24/6).

Tidak hanya memfasilitasi program literasi digital yang diinisiasi oleh pemerintah, Nezar juga mengatakan bahwa Kemkodigi siap mendukung inisiatif lain yang melibatkan pesantren dalam peningkatan kapasitas digital masyarakat.

Menurutnya, pengembangan keterampilan digital santri menjadi penting karena lulusan pesantren memiliki beragam pilihan profesi di masa depan, tidak hanya sebagai pendakwah atau pengajar agama.

Baca juga: Menekraf ingin pelatihan literasi digital menyasar ke segmen santri

Berkaca dari kenyataan tersebut, maka dari itu Kemkomdigi membuka akses pelatihan digital berbasis daring yang dapat diikuti santri sesuai kebutuhan dan minatnya.

Dalam audiensi tersebut, Wamen Nezar juga mendorong agar program literasi digital di lingkungan pesantren berkembang mengikuti kebutuhan zaman yang berubah sangat cepat terutama terkait pemanfaatan teknologi baru seperti kecerdasan artifisial (AI).

"Literasi digital sekarang itu lebih mencoba meningkatkan skill atau juga pemahaman terhadap emerging technology. Misalnya artificial intelligence, IoT, dan lain-lain," ujarnya.

Baca juga: Kemkomdigi edukasi santri jadi Sahabat Tunas lewat wayang golek

Terkhusus tentang AI, Nezar berpendapat bahwa teknologi ini sangat relevan bagi kalangan santri di pesantren karena teknologi tersebut telah digunakan secara luas oleh generasi muda.

Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang memadai agar pemanfaatan AI dilakukan secara kritis dan bertanggung jawab.

"Paling tidak ada literasi tentang bagaimana sih kita menghadapi artificial intelligence ini. Dan saya kira di pesantren itu sangat kontekstual," katanya.

Selain pelatihan dan sertifikasi digital, Kemkomdigi juga menawarkan peluang kolaborasi dalam program kewirausahaan berbasis teknologi.

Baca juga: Pentingnya Ditjen Pesantren Kemenag di era digital

Nezar menyebut salah satunya adalah program Garuda Spark Innovation Hub yang tengah diperluas ke berbagai daerah sehingga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, membangun jejaring industri, hingga merintis startup berbasis teknologi.

Program tersebut melengkapi berbagai pelatihan digital yang telah dijalankan Kemkomdigi melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi.

Ia berharap kolaborasi dengan pesantren dapat memperkuat literasi digital sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengembang dan pelaku ekonomi digital yang berdaya saing.

Baca juga: Membangun generasi santri cerdas digital

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |