Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM menyampaikan bahwa paparan abu vulkanik dan debu pada musim kemarau bisa memicu masalah kesehatan.
"Musim kemarau memperberat situasi karena abu tidak tercuci hujan, mengendap lama, lalu beterbangan lagi bercampur debu jalanan dan asap. Beban partikel di udara jadi menumpuk," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Oleh karena itu, ia mengatakan, selama masih ada persebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi sebaiknya pintu dan jendela ditutup dan celahnya disumbat menggunakan kain lembab.
"Ini berbeda dengan masker basah — membasahi kain penutup celah memang berguna," katanya.
Selain itu, dia menyarankan pengguna pendingin udara untuk mengaktifkan mode sirkulasi udara di dalam ruangan.
Baca juga: Paparan abu vulkanik bisa membahayakan penderita penyakit pernapasan
Menurut dr. Sukamto, selama masih ada persebaran abu vulkanik aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama kegiatan olahraga, yang membuat orang bernapas menjadi lebih dalam dan lebih cepat sehingga bisa menghirup lebih banyak partikel halus.
Kalau harus melakukan kegiatan di luar ruangan, ia melanjutkan, maka sebaiknya memakai masker dengan rapat, kacamata pelindung, pakaian lengan panjang, dan topi.
Dia menyarankan penggunaan masker N95, KN95, dan FFP2 untuk meminimalkan paparan abu vulkanik dan debu.
Setelah beraktivitas di luar ruangan, menurut dia, sebaiknya segera membersihkan diri dengan mandi dan keramas.
Apabila mata terasa berpasir, ia melanjutkan, maka sebaiknya dibilas menggunakan air bersih atau cairan salin. Jangan dikucek.
Baca juga: Masker yang direkomendasikan untuk menangkal paparan abu vulkanik
Dokter Sukamto menyarankan pakaian yang dipakai untuk kegiatan di luar ruangan dicuci secara terpisah, wadah air minum dipastikan tertutup, serta sayur dan buah yang hendak dikonsumsi dicuci bersih guna meminimalkan paparan abu vulkanik.
Dosen tetap di Divisi Alergi Imunologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga mengingatkan pentingnya memperbanyak minum air putih agar saluran napas tidak kering.
Ia menganjurkan orang yang merasakan gejala sesak napas yang memberat atau mengi yang tidak mereda dengan inhaler, nyeri dada, demam dengan batuk berdahak yang menetap, atau nyeri mata dan penglihatan kabur segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Beberapa gunung api di Indonesia belakangan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, termasuk Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.
Persebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi berpeluang menimbulkan masalah kesehatan.
Oleh karena itu, warga di daerah yang terdampak persebaran abu vulkanik disarankan untuk memakai masker dan alat pelindung yang dibutuhkan guna meminimalkan paparan abu vulkanik.
"Kelompok yang perlu perhatian khusus, bayi dan anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit paru dan jantung kronik, serta pasien dengan gangguan sistem imun," kata dr. Sukamto.
Baca juga: Kemenkes koordinasi dengan distributor untuk pastikan masker tersedia
Baca juga: 3,3 juta warga lansia berisiko terdampak paparan abu vulkanik Anak Krakatau
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































