Jakarta (ANTARA) - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat gambar, membantu pekerjaan, bahkan hingga menjadi tempat menyurahkan isi hati. Teknologi ini bekerja dengan mengandalkan komputer dalam jumlah besar yang berada di pusat data atau pusat data.
Di balik kemudahan tersebut, ada satu dampak lingkungan yang mungkin belum banyak diketahui, yakni penggunaan air.
Lantas, apakah AI benar-benar membuat jumlah air di Bumi berkurang?
Secara sederhana, AI tidak membuat air di Bumi hilang begitu saja. Air tetap mengikuti siklus hidrologi, yakni menguap, membentuk awan, turun sebagai hujan, mengalir ke sungai dan laut, lalu kembali mengalami penguapan.
Masalahnya bukan pada hilangnya air dari planet ini, melainkan berkurangnya ketersediaan air tawar yang dapat digunakan manusia di lokasi dan waktu tertentu.
AI membutuhkan komputer dengan kemampuan pemrosesan tinggi. Komputer tersebut menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika digunakan, terutama saat melatih atau menjalankan model AI berukuran besar.
Agar perangkat tidak mengalami panas berlebih, pusat data membutuhkan sistem pendingin. Sebagian fasilitas menggunakan air untuk membantu membuang panas tersebut.
Dengan kata lain, semakin besar kebutuhan komputasi AI, semakin besar pula kebutuhan energi dan pendinginan yang berpotensi meningkatkan penggunaan air.
Salah satu cara paling mudah memahami persoalan ini adalah dengan membayangkan komputer dalam skala yang sangat besar.
Jika sebuah komputer digunakan terus-menerus, suhunya akan meningkat. Pusat data yang menjalankan ribuan hingga jutaan perangkat komputasi menghadapi persoalan yang sama, tetapi dalam skala jauh lebih besar.
Sistem pendingin tertentu menggunakan air yang kemudian dapat menguap untuk membawa panas keluar dari fasilitas. Air yang menguap tersebut tidak langsung tersedia kembali bagi masyarakat di wilayah yang sama.
Penelitian mengenai jejak air AI menunjukkan bahwa penggunaan air bisa berasal dari dua sumber utama, yakni penggunaan langsung untuk pendinginan pusat data dan penggunaan tidak langsung dari pembangkit listrik yang memasok energi ke pusat data.
Artinya, jejak air AI tidak hanya berasal dari air yang terlihat digunakan di dalam gedung pusat data.
Listrik juga punya hubungan dengan penggunaan air
AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Pusat data yang menjalankan layanan AI harus beroperasi sepanjang waktu dan membutuhkan daya komputasi tinggi.
Persoalannya, pembangkit listrik juga dapat membutuhkan air. Besarnya penggunaan bergantung pada teknologi pembangkit serta sumber energi yang digunakan.
Karena itu, ketika seseorang menggunakan layanan AI, jejak airnya tidak hanya berasal dari proses pendinginan server. Ada pula air yang digunakan secara tidak langsung dalam rantai penyediaan listrik.
Data dari International Energy Agency (IEA) yang dikutip dalam kajian mengenai jejak air pusat data menunjukkan bahwa konsumsi air tidak langsung dari pembangkitan listrik dapat menjadi bagian yang lebih besar dibandingkan penggunaan langsung untuk pendinginan. Pada 2023, total konsumsi air pusat data secara global diperkirakan sekitar 560 miliar liter, dengan sekitar 373 miliar liter berasal dari penggunaan tidak langsung untuk pembangkitan listrik dan sekitar 140 miliar liter digunakan secara langsung di fasilitas.
Baca juga: PBB: Kecerdasan buatan dapat jadi ancaman bagi umat manusia
Baca juga: OpenAI klaim berhasil capai target kembangkan peneliti magang otomatis
Angka tersebut mencakup pusat data secara keseluruhan, bukan hanya fasilitas yang digunakan untuk AI. Namun, perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kebutuhan komputasi dan pusat data.
Lalu, apakah setiap pertanyaan ke AI menghabiskan banyak air?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Beberapa penelitian mencoba menghitung jejak air dari aktivitas AI, tetapi hasilnya dapat berbeda-beda. Penyebabnya antara lain jenis model yang digunakan, panjang permintaan, lokasi pusat data, cuaca, sistem pendingin dan sumber listrik yang digunakan.
Sebuah penelitian yang dipimpin peneliti dari University of California, Riverside, misalnya, memperkirakan bahwa pelatihan model AI besar seperti GPT-3 di pusat data tertentu dapat secara langsung menguapkan sekitar 700.000 liter air tawar. Penelitian tersebut juga memperkirakan permintaan AI secara global dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik penggunaan air pada 2027 jika pertumbuhan terus berlanjut.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan metode dan asumsi tertentu. Jadi, angka penggunaan air untuk satu pertanyaan atau satu percakapan tidak bisa dianggap sebagai angka pasti yang berlaku untuk semua layanan AI.
Dampaknya lebih terasa di wilayah tertentu
Persoalan terbesar sebenarnya bukan semata-mata berapa banyak air yang digunakan AI secara global.
Yang juga penting adalah di mana air tersebut digunakan.
Baca juga: OpenAI luncurkan Astra, model AI yang diklaim paling kuat dan cerdas
Penggunaan air dalam jumlah besar di wilayah yang memiliki sumber air melimpah tentu memiliki konsekuensi yang berbeda dibandingkan penggunaan dengan jumlah sama di daerah yang sedang mengalami kekeringan atau tekanan air.
Penelitian terbaru mengenai jejak air AI juga menunjukkan bahwa banyak pusat data berada atau berpotensi dibangun di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap sumber daya air. Karena itu, lokasi pembangunan pusat data menjadi faktor penting dalam menilai dampak lingkungan AI.
Dengan demikian, satu fasilitas pusat data mungkin memberikan dampak yang relatif kecil terhadap ketersediaan air secara global, tetapi bisa menjadi persoalan serius bagi sistem air masyarakat di sekitar lokasi jika kebutuhan airnya meningkat pada waktu tertentu.
AI juga bisa dibuat lebih hemat air
Kabar baiknya, penggunaan AI tidak harus selalu identik dengan penggunaan air dalam jumlah besar.
Pengelola pusat data dapat menggunakan teknologi pendinginan yang lebih efisien, termasuk sistem pendinginan berbasis udara, liquid cooling, penggunaan air daur ulang, hingga sistem pendinginan tertutup yang memungkinkan air digunakan kembali.
Beberapa desain pusat data modern bahkan dikembangkan dengan sistem yang mengurangi atau menghilangkan kebutuhan air untuk pendinginan langsung. Namun, pilihan tersebut juga memiliki konsekuensi lain, misalnya kebutuhan listrik yang dapat meningkat pada sistem pendinginan tertentu.
Karena itu, solusi untuk membuat AI lebih ramah lingkungan tidak cukup hanya dengan mengurangi penggunaan air di dalam pusat data. Sumber listrik, efisiensi perangkat, lokasi fasilitas dan teknologi pendinginan semuanya perlu diperhitungkan.
Baca juga: Samsung SDS perluas kemitraan AI dengan OpenAI dan Anthropic
Baca juga: IdeaFest 2026 angkat peran manusia di tengah perkembangan teknologi AI
Baca juga: ASN dan kecerdasan baru birokrasi
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































