Selera konsumen China ubah lanskap perkebunan durian di Asia Tenggara

2 hours ago 3

Nanning (ANTARA) - Pada liburan Hari Buruh (May Day) baru-baru ini, di sebuah pusat logistik buah di Pingxiang, dekat Friendship Pass, gerbang utama untuk produk ASEAN di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, para wisatawan dan pedagang grosir tampak berkerumun di sekitar durian yang tertata rapi, terpikat dengan janji rasa buah yang lebih segar dan harga yang bersaing.

"Banyak pengunjung datang untuk merasakan langsung pengalaman di daerah perbatasan dan membeli durian sebagai oleh-oleh terbaik," kata Liu Xian, seorang pemilik kios lokal.

Para pelaku industri menyebut pola konsumen ini lebih dari sekadar tren musiman, melainkan pergeseran struktural. "Seiring meningkatnya pengetahuan konsumen China tentang varietas, kematangan, dan tekstur durian, pasar kini beralih dari penetapan harga seragam ke penetapan harga bertingkat," kata Guan Caixia, seorang pedagang durian berpengalaman di Guangxi.

Pada 2025, China mengimpor rekor 1,868 juta ton durian segar. Meskipun Vietnam menguasai 51 persen pangsa pasar berdasarkan volume, Thailand mempertahankan keunggulannya dalam nilai total, didukung oleh prestise varietas durian Monthong-nya, yang dijuluki "bantal emas".

Konsumen China kini semakin memperhatikan ketelusuran dan konsistensi kualitas, dan munculnya e-commerce menciptakan peluang pertumbuhan baru di kota-kota tingkat bawah, sehingga para produsen Asia Tenggara meningkatkan upaya mereka agar tetap kompetitif.

Seorang pelanggan memilih durian di sebuah supermarket di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, 2 Mei 2026. (Xinhua/Zhao Huan)

"Keunggulan kami terletak pada pengalaman penanaman dan ekspor yang telah terakumulasi sejak lama, pengendalian mutu yang diakui secara internasional, dan logistik yang dirancang khusus untuk China," kata Niti Pratoomvongsa, penasihat perdagangan di Konsulat Jenderal Kerajaan Thailand di Nanning.

"Pihak berwenang Thailand juga menegakkan Praktik Pertanian yang Baik mulai dari pertanian hingga pelabuhan, bekerja sama erat dengan para inspektur di China untuk memastikan ketelusuran dan memantau residu pestisida," tambah Pratoomvongsa.

Huang Meixia dari Charoen Pokphand (CP) Group mengungkapkan para pengekspor Thailand kini mengklasifikasikan durian ke dalam tiga kategori, yakni A, B, dan C. Durian kategori A, yang dicirikan oleh empat hingga lima juring (ruang buah durian) yang terisi penuh, menjadi primadona pasar.

Hal ini telah mendorong para petani berpengalaman maupun pemula untuk berinvestasi dalam pertanian dan teknologi yang terstandardisasi agar dapat mencapai kualitas terbaik secara konsisten, tambah Huang.

Seorang penjual membuka durian di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, pada 1 Mei 2026. (Xinhua/Zhao Huan)

Efek berantai positif tersebut juga telah mencapai Indonesia, yang muncul sebagai pesaing yang menjanjikan. Negara ini mengembangkan 240 "desa durian" dan memperkenalkan teknologi pintar untuk pemantauan kebun secara real-time.

Pada Januari, kontainer pertama durian beku Indonesia tiba di Pelabuhan Qinzhou, Guangxi, menandakan niat Indonesia untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar dalam pasar tahunan China yang bernilai 8 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.362), atau sekitar 54,8 miliar yuan (1 yuan = Rp2.552).

Tulang punggung perdagangan yang berkembang pesat ini merupakan jaringan logistik yang terus berevolusi. Durian Thailand kini dapat mencapai Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, di China barat daya, melalui Jalur Kereta China-Laos hanya dalam waktu 26 jam.

Selama musim puncak, frekuensi perjalanan kereta tersebut melonjak dari dua menjadi enam perjalanan per hari, mendistribusikan "raja buah" ini ke lebih dari 30 kota di China dalam waktu 48 jam.

Seorang penjual membuka durian di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, pada 1 Mei 2026. (Xinhua/Zhao Huan)

"Pasokan durian sebagian besar sudah stabil," kata Wang Zhengbo, chairman TWT Supply Chain, sebuah perusahaan manajemen rantai pasokan yang berbasis di Guangxi. "Sekarang durian tersedia hampir sepanjang tahun," imbuhnya.

"Durian masih jauh dari titik jenuh pasar di China," kata Wang, seraya mengungkapkan basis konsumen telah melonjak dari puluhan juta menjadi lebih dari 100 juta.

Dari logistik hingga kontrol kualitas, para pelaku industri meyakini bahwa penerapan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) China mulai terasa pengaruhnya dalam rantai pasokan durian. Prospek jangka panjangnya tak diragukan lagi menjanjikan, menandakan evolusi yang didorong oleh teknologi untuk perdagangan durian global.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |