Menteri LH dukung kerja sama energi hijau RI-Kazakhstan-Tajikistan

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mendukung rencana strategis Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan Fadjroel Rachman terkait pembahasan Nota Kesepahaman (MoU) antar pemerintah yang melibatkan Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan.

Dalam siaran pers KBRI Astana di Jakarta, Senin, disebutkan bahwa rencana strategis ini merupakan tindak lanjut dari sejumlah pertemuan di Kazakhstan dan Tajikistan tentang isu air dan perubahan iklim serta Regional Ecological Summit 2026 di Kazakhstan.

Jumhur menegaskan ketiga negara memiliki kesamaan visi dan misi yang sangat potensial untuk dikolaborasikan.

"Ketiga negara memiliki kesamaan visi dan misi terkait perubahan iklim, air, pengelolaan sampah, energi hijau dan investasi hijau, seperti yang disampaikan Dubes Fadjroel, termasuk pengelolaan sampah menjadi energi listrik, dekarbonisasi smelter, serta potensi PLTA raksasa di Kayan Kalimantan Utara dan Mamberamo di Papua," katanya.

Menurutnya, kesamaan agenda ini menjadi modal utama untuk membangun kerja sama selatan-selatan (South-South Cooperation on Environment) yang saling menguntungkan.

"Kami tidak hanya berbicara di atas kertas. Kami sepakat dengan Pak Dubes untuk merumuskan ruang lingkup MoU G to G yang akan mencakup transfer pengetahuan, investasi hijau, dan proyek percontohan", katanya.

Sementara itu, Fadjroel mengatakan salah satu poin penting yang disorot adalah potensi kerja sama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar, mengingatkan bahwa hubungan bilateral di bidang air sebenarnya sudah mulai dirintis sejak 2024 oleh Presiden Jokowi.

"Terkait kerjasama PLTA, Presiden Jokowi pernah bertemu PM Tajikistan Kokhir Rasulzoda pada World Water Forum 2024 di Bali. Potensi ekonomi hijau ini dapat juga memanfaatkan Free Trade Agreement Indonesia - Eurasian Economic Union yang ditandatangani 21 Desember 2025 lalu", katanya.

Menurutnya, Tajikistan memiliki pengalaman teknis dalam pembangunan dan pengoperasian bendungan dan sistem hidroelektrik di kawasan pegunungan, yakni Bendungan Norak dengan kapasitas terpasang 3.000 MW, dan Bendungan Rogun, tertinggi di dunia, dengan kapasitas terpasang direncanakan 3.780 MW.

Sehubungan dengan itu, Fadjroel berharap berbagai forum internasional, khususnya di Kazakhstan dan Tajikistan, dapat dihadiri oleh Jumhur, termasuk The 2026 UN Water Conference di Uni Emirat Arab dan KTT Iklim PBB (UNFCCC COP31) 2026 di Turkiye.

Selain itu, katanya, skema pendanaan inovatif melalui investasi hijau juga diharapkan dijajaki dengan melibatkan BUMN ketenagalistrikan dan badan usaha swasta dari ketiga negara.

"Ini bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah action-oriented partnership. Dunia sedang bergerak cepat menuju energi hijau dan ekonomi sirkular. Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan dapat bergerak bersama menuju dunia yang lebih baik", katanya.

Baca juga: Indonesia kaji kebijakan bebas visa kunjungan bagi Kazakhstan

Baca juga: Indonesia bahas rencana investasi alumina Tajikistan

Baca juga: RI-Tajikistan tingkatkan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |