Jakarta (ANTARA) - Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait ancaman tarif perdagangan terhadap tembaga.
“Trump menambah sentimen negatif dengan mengancam akan mengenakan tarif pada tembaga,” ucapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan informasi dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Trump memperketat kebijakan perdagangan dengan memerintahkan penyelidikan terhadap potensi tarif baru pada impor tembaga.
Langkah dari AS ini bertujuan untuk memperkuat industri domestik AS yang mendukung sektor kendaraan listrik, perangkat keras militer, dan infrastruktur jaringan listrik.
Faktor lain dari pelemahan kurs rupiah ialah isyarat Trump terkait tarif 25 persen terhadap Kanada dan Meksiko yang akan tetap berjalan sesuai rencana.
Presiden AS sempat menandatangani perintah eksekutif pada awal Februari untuk mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap impor dari Kanada dan Meksiko. Kemudian, pemberlakuan tarif atas produk dari kedua negara tersebut di AS ditangguhkan selama 30 hari.
Setelah hampir sebulan, Trump tetap bersikukuh dengan rencana untuk memberlakukan tarif terhadap Kanada dan Meksiko.
“Pungutan atas impor dari kedua negara tersebut tepat waktu dan sesuai jadwal meskipun kedua (negara itu) telah berupaya untuk memperkuat keamanan perbatasan,” ungkap Ibrahim.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan pasa Rabu di Jakarta melemah hingga 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.381 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.371 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini turut melemah ke level Rp16.387 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.316 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah menguat seiring survei kepercayaan konsumen AS melemah
Baca juga: Rupiah pada Rabu pagi menguat jadi Rp16.347 per dolar AS
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2025