Jakarta (ANTARA) - Nelayan mengeluhkan kesulitan akses berlayar imbas ribuan kapal yang bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
Salah satu nelayan, Barda Wijaya (43) mengaku, dirinya terpaksa meminggirkan kapal-kapal nelayan lain saat hendak berlayar untuk menjaring ikan.
"Kapal kan jalannya cuma maju sama mundur saja, kalau mau kita atur saja, kita mundurkan kapal. Ada kapal yang menghalangi digeser, lepas dulu tali pengikatnya" ujar Barda di pelabuhan tersebut, Kamis.
Pria yang sudah sejak tahun 1998 menjadi nelayan ini tidak mempermasalahkan kondisi parkiran kapal yang semrawut selama ada komunikasi yang baik antarsesama nelayan.
"Kalau saya pribadi sih enggak terlalu berpengaruh, yang penting kan ada komunikasi saja. Jadi enak kan," katanya.
Baca juga: Viral kapal menumpuk, Dermaga Kali Asin bakal diperluas
Barda mengungkapkan, permasalahan nelayan sebetulnya terkait cuaca seperti sekarang sedang tidak menentu. Hal itu sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan.
"Jadi kayak, misalnya, angin, kayak musim sekarang-sekarang ini, mah itu yang menjadi beban," ungkapnya.
Nelayan asli Pandeglang ini mengatakan, bulan Februari dan bulan Maret seharusnya menjadi momentum yang baik untuk menangkap ikan. Ia pun sangat menantikan momentum tersebut.
"Biasanya bulan ke dua atau ke tiga, Februari sampai Maret itu cuaca bagus, hasil tangkapan biasanya lebih banyak," katanya.
Barda merupakan nelayan yang biasa menangkap ikan teri dan sejenisnya di perairan Kepulauan Seribu. Jika cuaca sedang baik, ia biasanya bisa dua kali berlayar dalam sehari.
Baca juga: Dishub buka kembali pelayaran ke Kepulauan Seribu
Dia dan sesama nelayan lain di kapalnya itu bisa menghasilkan hingga dua ton ikan teri yang bercampur dengan ikan lainnya seperti ikan kembung dalam sekali berlayar jika cuaca baik.
"Tapi kalau cuaca lagi enggak bagus, pernah juga cuma dapat 25 kilogram ikan teri. Kalau cuma dapat 25 kilogram kan jadi enggak dapat apa-apa," tutur dia.
Barda menyampaikan, selama dirinya menjadi nelayan, uang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku paling besar mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp300 ribu per hari.
"Itu kalau lagi tangkapannya banyak, tapi kalau lagi biasa aja ya paling cuma Rp100 ribu," katanya.
Baca juga: Cuaca buruk, kapal Dishub DKI di Pelabuhan Muara Angke tak beroperasi
Sementara itu, Rama, penjaga kapal di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke membenarkan kondisi semrawut di parkiran kapal Pelabuhan Muara Angke.
"Ya kalau dibilang semrawut ya memang semrawut, bisa dilihat sendiri kondisinya seperti apa," katanya.
Terhadap kondisi ini, Rama berharap agar adanya perhatian dari pemerintah. Sebagai penjaga kapal yang juga memantau aktivitas kapal nelayan, Rama menyebutkan, kondisi tersebut terkadang menyulitkan kapal yang akan berlayar.
"Ya kami berharap ada perhatian lah dari pemerintah supaya situasinya enggak seperti ini," kata Rama.
Pantauan di lokasi pada Kamis siang, kapal-kapal nelayan tengah bersandar di perairan Dermaga Pulau T Muara Angke selepas berlayar untuk menangkap ikan.
Terlihat perairan Dermaga Pulau T Muara Angke dipenuhi kapal-kapal nelayan penangkap cumi hingga ikan teri yang tengah parkir selepas berlayar ke lautan.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































