Menjaga tradisi mudik di kepulauan Maluku

2 hours ago 3

Ambon (ANTARA) - Menjelang Idul Fitri, suasana di pelabuhan-pelabuhan di Maluku hampir selalu berubah menjadi lebih sibuk dari hari-hari biasa.

Ribuan warga dengan tas besar, kardus berisi oleh-oleh hingga keranjang kebutuhan pokok terlihat memadati dermaga untuk menunggu keberangkatan kapal menuju pulau asal mereka.

Kondisi tersebut menjadi gambaran khas tradisi mudik di provinsi kepulauan itu, di mana perjalanan pulang kampung tidak ditempuh melalui jalan tol atau jalur darat, melainkan melalui laut yang membentang luas di antara ribuan pulau yang membentuk wilayah Maluku.

Transportasi laut menjadi urat nadi mobilitas masyarakat karena sebagian besar wilayah Maluku terdiri atas pulau-pulau yang terpisah oleh jarak laut. Kapal penumpang, kapal perintis, hingga kapal cepat menjadi sarana utama yang menghubungkan kota dengan desa-desa pesisir.

Di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, misalnya, aktivitas mudik mulai terasa sejak pagi hari ketika calon penumpang dari berbagai latar belakang mulai dari pekerja, mahasiswa hingga pedagang datang lebih awal untuk memastikan mereka mendapatkan tempat di kapal yang akan berlayar menuju pulau tujuan.

Bagi sebagian pemudik, perjalanan pulang kampung di Maluku tidak selalu sederhana. Banyak dari mereka harus menempuh perjalanan berlapis.

Setelah menyeberang menggunakan kapal besar dari Ambon, sebagian warga masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kapal kayu, perahu motor, atau speedboat untuk mencapai desa yang berada di pulau-pulau kecil.

Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari pengalaman mudik masyarakat kepulauan. Di geladak kapal, para penumpang sering menghabiskan waktu dengan berbincang, berbagi makanan, hingga menikmati panorama laut yang mengiringi perjalanan menuju kampung halaman.

Namun perjalanan laut juga tidak selalu mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca di perairan Maluku kerap berubah secara tiba-tiba. Angin kencang, gelombang tinggi, hingga hujan lebat kerap menjadi tantangan bagi kapal yang berlayar antarpulau. Kondisi ini membuat sebagian perjalanan terkadang harus ditunda atau berlangsung lebih lama dari jadwal yang direncanakan.

Bagi para pemudik, situasi tersebut menjadi bagian dari risiko perjalanan laut yang sudah lama mereka pahami. Tidak jarang para penumpang harus menunggu berjam-jam di pelabuhan ketika kapal menunda keberangkatan demi keselamatan pelayaran.

Kampong game-game

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |