Beirut (ANTARA) -
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, Sabtu (14/2), menolak klaim tentara Israel bahwa ambulans digunakan untuk tujuan militer dan menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya untuk membenarkan "kejahatan terhadap kemanusiaan."
Dalam sebuah pernyataan, kementerian itu menyatakan pasukan Israel telah berulang kali menargetkan tim ambulans mereka dalam misi penyelamatan sejak dimulainya serangan terhadap Lebanon.
Hal itu termasuk serangan terhadap pusat layanan kesehatan primer di Desa Burj Qalaouiyeh di Lebanon selatan, pada Sabtu pagi, yang digambarkan sebagai fasilitas medis sipil yang beroperasi di bawah pengawasan kementerian tersebut.
Pemerintah Lebanon menyebut serangan itu menewaskan 12 tenaga kesehatan termasuk dokter, perawat, dan petugas penyelamat. Kemudian, membuat seorang nakes mengalami luka serius dan empat lainnya hilang.
Sejak 2 Maret, serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan 26 paramedis dan melukai 51 lainnya, menurut kementerian itu. Mereka melanjutkan,jumlah korban tersebut menjadi bukti serangan berkelanjutan terhadap tim medis, yang juga meluas ke Palang Merah Lebanon untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023.
Pernyataan itu juga menyampaikan bahwa klaim Israel tentang ambulans yang digunakan untuk tujuan militer semata-mata bertujuan untuk membenarkan pelanggaran hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa yang melindungi personel dan fasilitas medis.
Sebelumnya, Sabtu (14/3), seorang juru bicara militer Israel mengatakan dalam sebuah unggahan di platform media sosial X bahwa Hizbullah secara luas menggunakan ambulans untuk "tujuan militer", serta memperingatkan penggunaan fasilitas medis dan ambulans untuk keperluan militer harus segera dihentikan.
Hizbullah mengumumkan peluncuran roket dari Lebanon ke arah Israel pada 2 Maret 2026 untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata berlaku pada 27 November 2024. Israel kemudian melancarkan kampanye militer ofensif terhadap kelompok tersebut, melakukan serangan udara intensif di berbagai wilayah di Lebanon selatan dan timur, serta pinggiran selatan Beirut.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































