Istanbul (ANTARA) - Pemerintah Prancis akan mengaktifkan rencana darurat Extreme Heat ORSEC untuk pertama kalinya pada Jumat di seluruh wilayah yang berstatus peringatan merah akibat gelombang panas.
Juru Bicara Pemerintah Prancis Maud Bregeon mengatakan langkah tersebut diambil untuk melindungi masyarakat yang paling rentan dari dampak cuaca ekstrem.
"Hari ini kami akan mengaktifkan rencana Extreme Heat ORSEC di seluruh wilayah yang berada dalam status peringatan merah gelombang panas. Kami juga akan membuka pusat-pusat pendinginan untuk melindungi kelompok yang paling rentan," kata Bregeon kepada stasiun televisi TF1.
Rencana tersebut diperkenalkan pada 2 Juli sebagai mekanisme respons terpadu yang melibatkan seluruh otoritas pemerintah selama terjadi gelombang panas ekstrem.
Melalui mekanisme perlindungan sipil itu, pemerintah akan mengerahkan tambahan sumber daya serta mengidentifikasi dan memberikan bantuan kepada warga yang tinggal seorang diri atau berada dalam kondisi rentan.
Badan Meteorologi Prancis, Meteo-France, menyatakan sembilan wilayah di bagian barat negara itu akan memasuki status peringatan merah gelombang panas mulai Jumat siang.
Sebanyak 72 departemen lainnya masih berada dalam status peringatan oranye.
Menurut Meteo-France, gelombang panas yang melanda Prancis sejak 4 Juli itu diperkirakan berlangsung setidaknya hingga Selasa pekan depan, dengan suhu diproyeksikan kembali meningkat mulai Minggu.
Cuaca panas berkepanjangan juga memicu kebakaran hutan.
Selama pekan pertama Juli, sekitar 9.921 hektare lahan terbakar, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tingginya risiko kebakaran juga mendorong pemerintah membatalkan sejumlah pertunjukan kembang api pada peringatan Hari Bastille, termasuk di wilayah Herault dan Vendee.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Paris kembali berlakukan status waspada panas ekstrem tertinggi
Baca juga: PLTN Golfech di Prancis dihentikan akibat gelombang panas ekstrem
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































