Prabowo pangkas anggaran tak produktif demi tutup celah korupsi

4 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan memangkas anggaran belanja negara pada kementerian dan lembaga yang dinilai tidak produktif demi menutup celah penyimpangan dalam penggunaan APBN.

​"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya, itu semua Rp308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi," kata Presiden Prabowo dalam video yang diterima ANTARA dari Biro Pers Sekretariat Presiden, di Jakarta, Kamis .

​Kepala Negara menjelaskan bahwa penghematan sebesar Rp308 triliun tersebut merupakan hasil penyisiran tahap awal terhadap belanja pusat.

Menurutnya, jika dana tersebut dibiarkan tanpa pengawasan dan pemotongan maka akan menjadi beban bagi keuangan negara tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

​Presiden juga menyoroti indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang berada di level 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga.

Tingginya angka tersebut menunjukkan adanya ketidakefisienan sekitar 30 persen atau setara 75 miliar dolar AS dari total APBN yang mendekati angka Rp3.700 triliun.

​Sejumlah pos anggaran yang menjadi sasaran pemangkasan meliputi biaya seremonial, pembelian alat tulis kantor, hingga pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor. Presiden menilai kegiatan-kegiatan tersebut seringkali tidak menyentuh persoalan utama seperti pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, pemerintah menyoroti kebiasaan pengadaan barang rutin seperti komputer dan perlengkapan kantor yang dilakukan hampir setiap tahun.

Prabowo menegaskan bahwa efisiensi belanja rutin yang tidak esensial ini masih memiliki ruang penghematan yang sangat besar bagi instansi pemerintah.

​Dalam menghadapi potensi krisis, Presiden juga mewacanakan penerapan pola kerja baru untuk mengurangi beban operasional negara. Skema seperti pengurangan hari kerja atau penerapan kerja dari rumah (work from home/WFH) sedang dipertimbangkan untuk diterapkan pada sebagian besar pegawai.

​"Saya lihat negara-negara lain umpamanya hari kerja dari lima jadi empat, Filipina, Pakistan. Kemudian work from home, bekerja dari rumah. Waktu COVID, kita lakukan cukup berhasil. Saya kira kita bisa lakukan itu juga. Mungkin 75 persen karyawan atau pegawai bisa kerja dari rumah," tutur Presiden Prabowo.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |