Jakarta (ANTARA) -
Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ mengatakan perempuan yang tumbuh dalam lingkungan dengan pola asuh kritikal, sering disalahkan, atau kerap disudutkan cenderung lebih sulit terbuka saat menghadapi persoalan.
“Kalau sejak kecil terbiasa dikritik atau disalahkan, ketika dewasa mereka lebih mudah menarik diri dan memilih diam saat ada masalah,” kata Elvine ketika ditemui setelah acara bincang-bincang memperingati Hari Kartini di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan rasa tidak aman dan pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Ketika perempuan merasa respons emosinya tidak diterima atau dianggap berlebihan, mereka bisa menginternalisasi stigma tersebut.
Ia menjelaskan, stigma tidak hanya datang dari lingkungan sosial, tetapi juga berkembang menjadi self stigma, yakni ketika perempuan menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang dialaminya.
Baca juga: Takut stigma, 70 persen korban kekerasan anak & perempuan enggan lapor
“Perempuan bisa merasa kenapa saya begini, kenapa saya terlalu emosional. Padahal proses biologis seperti menstruasi adalah hal normal,” ujarnya.
Elvine menambahkan, budaya patriarki yang masih kuat juga memengaruhi keberanian perempuan untuk bersuara. Dalam beberapa kasus kekerasan seksual, korban memilih diam karena takut dihakimi atau bahkan disalahkan.
Menurut dia, edukasi perlu dimulai dari rumah dengan pendekatan yang terbuka dan tanpa stigma. Orang tua perlu membicarakan isu menstruasi, kesehatan mental, dan batasan diri secara jujur kepada anak, baik perempuan maupun laki-laki.
“Ketika anak merasa didengar dan tidak dihakimi, mereka akan lebih berani menyampaikan apa yang dirasakan,” katanya.
Ia menekankan bahwa membangun lingkungan yang aman dan suportif menjadi langkah penting untuk mencegah perempuan terus memendam masalah yang berpotensi berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.
Baca juga: Dokter: Normalisasi nyeri haid dan PMB karena adanya stigma dan hoaks
Baca juga: Psikiater: Waspadai PMDD jika ada gejala depresi berat saat menstruasi
Baca juga: Psikiater jelaskan pengaruh hormon pada emosi saat menstruasi
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































