Pengalaman "Gala Desa" pertama mahasiswa Indonesia di China timur

3 hours ago 2

Nanchang (ANTARA) - "Perayaan Festival Musim Semi China tidak hanya mencakup tari naga dan barongsai serta makan pangsit. Kegiatan-kegiatan meriah seperti gala desa telah memberikan saya pemahaman mendalam tentang pesona kesenian rakyat China dan suasana gembira dalam merayakan festival tradisional China di daerah pedesaannya," tutur Juditha Leony Syahffira Bororing (28), mahasiswi asal Indonesia dari Universitas Sumber Daya Air dan Tenaga Listrik (University of Water Resources and Electric Power) Jiangxi, setelah menyaksikan gala tersebut.

Menjelang Festival Musim Semi 2026 di China, serangkaian perayaan digelar di berbagai wilayah dan desa di Provinsi Jiangxi, China timur, yang menampilkan beragam pertunjukan rakyat, gala desa, dan permainan olahraga pedesaan. Diselenggarakan oleh Aliansi Komunikasi Internasional Universitas dan Sekolah Tinggi (International Communication Alliance of Universities and Colleges) Jiangxi, sekelompok mahasiswa internasional merasakan sepenuhnya kemeriahan perayaan tersebut.

Sejumlah mahasiswa Indonesia menghadiri rangkaian perayaan menyambut Festival Musim Semi 2026 di desa di Provinsi Jiangxi, China timur. (ANTARA/Xinhua)

"Ini pertama kalinya saya berada di China, dan juga pertama kalinya saya melihat pedesaan China. Saya merasakan ketekunan masyarakat China, yang telah membangun desa-desa mereka menjadi tempat yang indah dengan festival dan perayaan yang terorganisasi dengan rapi," kata Ariella Tahali Fairuz Dyas (19), seorang mahasiswi asal Indonesia, yang merasakan pengalaman pertamanya di China dengan melihat daerah pedesaan.

"Menurut saya daerah pedesaan sangat indah dan menenangkan. Para petani benar-benar pekerja keras dan mereka bekerja dengan serius. Ini berbeda dari yang saya bayangkan karena saya kira akan lebih tradisional dan sederhana, tetapi sebenarnya cukup terorganisasi dan maju," imbuhnya.

Pada hari pembukaan pada Kamis (5/2), para mahasiswa asing mengikuti beragam kegiatan rakyat di pameran pasar Xujiang, parade warisan budaya takbenda, dan pembuatan kue beras ketan. Kemudian mereka berpartisipasi dalam permainan olahraga rekreasi pertanian, seperti "panen seru" dan "mengembalikan biji-bijian ke lumbung". Di malam hari, para mahasiswa asing berkumpul dengan penduduk desa dan menyaksikan acara gala desa yang dipentaskan oleh warga desa setempat.

Sejumlah mahasiswa Indonesia berfoto di tengah rangkaian perayaan menyambut Festival Musim Semi 2026 di desa di Provinsi Jiangxi, China timur. (ANTARA/Xinhua)

"Di Indonesia, Tahun Baru China atau Imlek merupakan hari libur nasional. Kita sangat familier dengan tradisi seperti memberi angpau atau amplop merah, makan pangsit, serta menyaksikan pertunjukan tari barongsai dan tari naga di pusat kota. Namun, pemahaman saya terbatas pada gaya perayaan perkotaan. Saya tidak menyadari bahwa di daerah pedesaan di China, perayaan tersebut sangat berakar pada kesenian rakyat dan pertunjukan komunitas sampai saya merasakan Festival Musim Semi Desa ini pada hari ini," kata Juditha.

"Bagian favorit saya adalah gala desa. Acaranya menyenangkan, mengesankan, dan membantu saya memahami budaya China dengan lebih baik," kata Dyas. Meskipun tidak memahami bahasanya, dia merasakan suasana yang ramah dan menikmati perayaan tersebut.

"Saya merasa diterima dengan baik, dan energi acara tersebut membuat saya bersemangat. Saya juga belajar bahwa di China, kegiatan seperti pertunjukan dan acara budaya merupakan cara untuk berbagi kebahagiaan dan menyatukan orang-orang," imbuhnya lagi.

Sejumlah mahasiswa Indonesia menghadiri rangkaian perayaan menyambut Festival Musim Semi 2026 di desa di Provinsi Jiangxi, China timur. (ANTARA/Xinhua)

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak mahasiswa asing yang dapat merasakan budaya China melalui Aliansi Komunikasi Internasional Universitas dan Sekolah Tinggi Jiangxi. Sejak didirikan pada 18 Juni 2024, aliansi tersebut telah menyelenggarakan 20 kegiatan pertukaran budaya untuk mahasiswa internasional, meliputi budaya keramik China, budaya pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM), budaya air, dan budaya drama, untuk membangun merek pertukaran budaya internasional "Belajar di Jiangxi" (Study in Jiangxi) dan memungkinkan lebih banyak mahasiswa asing memahami China.

Juditha meyakini kegiatan budaya semacam ini dapat membantu mahasiswa luar negeri lebih memahami budaya China secara langsung. "Selain belajar dari buku atau video, kegiatan ini menciptakan peluang untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat, yang memperdalam pemahaman kita tentang budaya China serta memupuk persahabatan dan pertukaran budaya," kata Juditha.

Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |