Semarang (ANTARA) - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tersebut mencapai 5,37 persen (year on year) pada triwulan IV 2025.
"Capaian ini memosisikan Jateng di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11 persen," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya, di Semarang, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa capaian tersebut juga menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Tidak hanya sekadar angka makro, pertumbuhan itu terbukti berimplikasi positif terhadap kesejahteraan masyarakat dengan turunnya angka kemiskinan secara signifikan.
"Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka ini harus perlu kita tingkatkan," katanya.
Menurut dia, momentum pertumbuhan yang berada di atas nasional itu harus terus dijaga dan diarahkan untuk program-program yang menyentuh masyarakat bawah.
"Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus mengarah kepada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jateng, Sumarno mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di Jateng berhasil ditekan dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September 2025.
Jumlah penduduk miskin Jateng pada September 2025 sebanyak 3,34 juta orang, turun 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025 dan turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024 yang sebanyak 3,40 juta orang.
"Pertumbuhan kita inklusif, didukung oleh gini ratio di angka 0,350. Hal ini mengindikasikan ketimpangan pendapatan antar penduduk semakin menyempit," katanya.
Peningkatan ekonomi juga tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jateng yang kini mencapai Rp50,82 juta, naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, ia menyebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berhasil dijaga pada angka 4,32 persen per November 2025.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jateng menyadari masih ada pekerjaan rumah pada sektor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 74,77.
"IPM kita masih berada di rata-rata nasional yang tentu saja harus kita upayakan untuk peningkatannya," kata Sumarno.
Baca juga: Pertumbuhan ekonomi Jateng di triwulan III 2025 capai 5,37 persen
Baca juga: DPD sebut Jateng selatan berpotensi jadi poros ekonomi baru
Baca juga: Jatim–Jateng teken 11 kerja sama dorong pertumbuhan ekonomi
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































