Jakarta (ANTARA) - Pewarta foto ANTARA membagikan tips keselamatan dan persiapan teknis saat meliput bencana dalam Diskusi Taman Langit edisi ketiga di Taman Perantaraan 1 atau Taman Langit, Kompleks ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (6/2).
Tips tersebut disampaikan setelah sesi presentasi foto cerita oleh pewarta Redaksi ANTARA FOTO, Erlangga Bregas Prakoso, Bayu Pratama S, dan Rivan Awal Lingga yang memaparkan pengalaman liputan bencana dari lapangan.
Erlangga mempresentasikan foto cerita bertajuk “Bayang-Bayang Banjir Aceh Tamiang”, sedangkan Bayu membawakan foto cerita berjudul “Berlayar Demi Misi Kemanusiaan”, dan "Kidung Sederhana di Tanah Bencana" yang dibawakan oleh Rivan.
Baca juga: ANTARA berbagi tips liputan mendalam di FISIP Untad Palu
Setelah pemaparan, Erlangga menyampaikan pentingnya bergerak tenang dan tidak tergesa saat mengambil gambar di area bencana karena kondisi lapangan kerap tidak terduga.
“Pertama, pelan-pelan aja fotonya nyantai, segala macem. Jangan terlalu grusak grusuk dan segala macem gitu. Karena kita nggak tahu kondisi di sana tuh seperti apa gitu,” ujarnya.
Ia mencontohkan medan bencana dapat dipenuhi lumpur tebal yang menyulitkan pergerakan pewarta dan kru di lapangan.
Baca juga: ANTARA Foto berhasil gelar edisi perdana Diskusi Taman Langit
“Kayak lumpur setebal-setebal itu kita jalan-jalan masuk gitu. Ada salah satu yang kejebak di lumpur gitu kan tiba-tiba pewarta video ada. Ya kayak gini-gini sih persiapan,” katanya.
Selain teknik bergerak dan pengambilan gambar, pewarta juga meminta jurnalis menghitung durasi liputan karena berkaitan dengan logistik dan perlengkapan yang dibawa ke lokasi.
“Dan kalian juga harus bisa berpikir-pikir berapa lama di sana gitu. Karena itu berkaitan dengan logistik, berkaitan dengan apa yang kalian bawa. Hal-hal yang kayak gitu sih,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap penugasan di wilayah bencana.
Baca juga: Diskusi Taman Langit ANTARA angkat peliputan bencana Sumatera
“Terus ya mungkin buat selalu, template yang sering digunakan bahwa nggak ada foto bagus seharga nyawa. Hal-hal kayak gitu sih yang perlu teman-teman persiapkan. Karena yang paling utama adalah keselamatan kalian,” katanya.
Bayu juga menambahkan pentingnya menyiapkan logistik sederhana serta perlindungan peralatan saat bertugas di lokasi bencana. Ia menyebut ketersediaan makanan di lapangan sering terbatas sehingga jurnalis perlu membawa bekal praktis sejak awal.
“Karena kalau di sana pasti nggak ada makanan. Nah kalian ketika kalian berangkat di sana kalian harus menyiapkan makanan yang paling simple,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan penggunaan tas tahan air untuk menjaga keamanan perangkat liputan dari risiko kerusakan akibat kondisi medan.
“Terus tas kalian juga tas yang memang itu bisa nahan air lah. Untuk peralatan kalian ya. Untuk melindungi peralatan kalian. Jangan yang tiba-tiba tas kalian bocor rembes gitu. Nah terakhirnya kena alat-alat kalian,” katanya.
Baca juga: 100 Musisi Heal Sumatra salurkan donasi pada korban bencana Sumatera
Baca juga: UIN Bukittinggi trauma healing siswa di Agam bangkitkan semangat anak
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































