Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan intervensi jaring pengaman harga ayam ras pedaging hidup dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat peternak serta melindungi keberlanjutan usaha perunggasan nasional.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah akan melakukan intervensi ketika harga ayam hidup turun maupun naik terlalu tinggi agar tetap berada pada level yang menguntungkan produsen dan terjangkau bagi masyarakat
"Begitu harganya turun kita harus naikkan kembali. Begitu harganya naik, kita turunkan kembali. Ini karena apa? Karena bagaimanapun kita ini negara produsen. Kita ingin swasembada. Tentu harga-harga di tingkat produsen jangan sampai terlalu rendah," kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Aspirasi peternak unggas seputar harga ayam ras pedaging hidup yang masih mengalami penurunan dan belum bergerak mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat peternak, terus ditindaklanjuti pemerintah.
Menurut Ketut sebagai negara produsen daging ayam ras, harga di peternak sangat krusial untuk dijaga kewajaran level harganya.
Adapun rata-rata harga ayam ras pedaging hidup di tingkat peternak secara nasional sampai 8 Juni dalam pemantauan Bapanas berada di Rp22.382 per kilogram (kg).
Level harga itu masih 10,47 persen jauh dibawah HAP yang berada di Rp25.000 per kg. Apabila dibandingkan sebulan sebelumnya juga kian menurun 2,39 persen karena saat itu level harga masih berada di Rp22.930 per kg.
Oleh karena itu, lanjut Ketut, pemerintah akan melakukan kolaborasi dengan menstabilkan kembali harga ayam.
"Kebetulan daging ayam ras di tingkat produsen juga mengalami penurunan. Tentu juga kita akan lakukan intervensi bersama-sama Direktorat Jenderal Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian," beber Ketut.
Pemerintah juga kolaborasi dengan asosiasi peternak unggas misalnya Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar).
"Untuk mencarikan solusi sehingga sekali lagi harga yang rendah di tingkat produsen bisa kita tangani dengan baik," tambah Ketut.
Ia menuturkan musyawarah untuk pencarian solusi bersama itu diupayakan secara kolaboratif oleh Bapanas agar terjadinya stabilitas harga dalam ekosistem perunggasan nasional mulai dari hulu hingga hilir.
Dia menyebutkan salah satu solusi yang sedang dikaji pemerintah untuk mengatasi masalah harga daging ayam di dalam negeri adalah penyerapan melalui program pemerintah seperti bantuan pangan. Hal itu pernah dilaksanakan pada tahun 2023 dan 2024 yang dikerjakan oleh ID FOOD.
Kala itu, Bapanas menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga berupa 1 kg daging ayam dan 10 butir telur ayam. Alokasi bantuan diberikan sebanyak untuk 3 bulan.
Tahun 2024 total sebanyak 8,6 juta paket pangan telah berhasil disalurkan ke 7 daerah sasaran, antara lain Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dengan itu, ID FOOD berhasil mendistribusikan lebih dari 15 juta paket bantuan pangan stunting selama 2 tahun berturut-turut.
Dalam pelaksanaan bantuan pangan tersebut, ID FOOD telah berkolaborasi dengan banyak peternak rakyat mandiri kecil, mikro, dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Pada tahun 2024, ID FOOD telah bermitra dengan total sampai 8.778 peternak yang terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.
Adanya penurunan harga di sektor perunggasan juga dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi BPS Pudji Ismartini membeberkan terjadinya kondisi deflasi daging ayam ras di Mei ini. Hal itu menekankan jika kondisi deflasi berulang tidak boleh diabaikan.
Daging ayam ras dilaporkan mengalami deflasi sebesar 3,83 persen pada Mei 2026. Kondisi ini melanjutkan tren penurunan harga yang juga terjadi pada bulan sebelumnya.
Deflasi berulang pada komoditas daging ayam ras menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian karena dapat mencerminkan tekanan harga yang masih berlangsung di tingkat produsen maupun pasar.
"Daging ayam ras juga mengalami jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan harga daging ayam ras bertambah di minggu pertama Juni 2026 ini, sudah sebanyak 85 kabupaten kota," katanya.
"Beberapa kabupaten kota walaupun mengalami kenaikan atau perubahan IPH (Indeks Perkembangan Harga) tetapi masih berada di bawah HAP-nya," tambah Pudji.
Deflasi daging ayam ras dicatat BPS mulai terjadi usai Maret. Daging ayam ras masih mengalami inflasi secara bulanan dari 3,30 persen di Maret, tapi kemudian menjadi deflasi 6,20 persen di April. Sementara deflasi daging ayam ras di Mei kembali terjadi meskipun ada pergerakan positif menjadi deflasi 3,83 persen.
Baca juga: Pakar: Pengembangan industri unggas penting sebagai ketahanan pangan
Baca juga: Mentan: Ekspor unggas Rp18,2 miliar, bukti surplus produksi nasional
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































