Jakarta (ANTARA) - Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu menekankan pentingnya ASEAN untuk selalu terbuka dan tidak menarik diri dari multilateralisme di tengah ketegangan geopolitik saat ini.
"Tugas kita saat ini bukanlah menarik diri dari keterbukaan, tetapi untuk membangun ketahanan sebagai sistem yang terbuka dan menghilangkan jarak antara ambisi dan kemampuan realisasi kita," kata Mari Elka dalam dialog strategis ASEAN-Kanada mengenai ketahanan energi di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan selama 40 tahun terakhir, model pembangunan ASEAN memiliki keterbukaan sebagai landasan yang diwujudkan melalui pasar terbuka, aturan yang terprediksi, hingga hubungan stabil dengan kekuatan eksternal.
Baca juga: Pakar ungkap 3 kunci dorong daya saing RI di industri BEV ASEAN
Model pembangunan tersebut, lanjutnya, telah membawa kemajuan ekonomi, mengentaskan kemiskinan bagi jutaan orang, dan membuat Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan yang paling terbuka.
Namun demikian, mantan menteri perdagangan itu mengatakan saat ini ASEAN sedang menghadapi polycrisis, kondisi di mana berbagai krisis global—ekonomi, lingkungan, geopolitik, dan teknologi—terjadi secara bersamaan dan saling berinteraksi hingga menyingkap kerentanan di kawasan.
Berbagai krisis tersebut, menurut dia, mulai dari pandemi COVID-19, krisis iklim, hingga mundurnya multilateralisme.
Baca juga: Kanada siap dukung ASEAN optimalkan ketahanan energi
Permasalahan keamanan energi, krisis iklim, dan guncangan geopolitik yang terjadi saat ini, katanya, menuntut ASEAN untuk merespons secara struktural dan menyeluruh.
Lebih lanjut, terkait ketahanan energi, mantan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif itu juga mendorong ASEAN dapat memacu pengembangan sistem jaringan listrik ASEAN Power Grid serta mengoptimalkan sumber daya alternatif berkelanjutan, seperti tenaga surya, air, dan geotermal.
"Mari kita lakukan diversifikasi energi dan jangan biarkan satu disrupsi membawa konsekuensi yang begitu besar bagi ekonomi kita," ujarnya.
Baca juga: Sekjen Kao tekankan lima prioritas kerja sama ASEAN-China
Selain lebih ramah lingkungan, menurutnya, energi terbarukan juga dapat mendorong terwujudnya ketahanan energi dan membantu memastikan sumber energi tetap berasal dari sumber domestik.
Mari Elka mengakui ASEAN dikenal sebagai kawasan yang menekankan kesiapsiagaan, seperti ditunjukkan dalam Kesepakatan Keamanan Minyak ASEAN (APSA) sejak 1986 yang masih diperlukan hingga saat ini.
Dia pun mengaku berpuas hati melihat prinsip tersebut masih diikuti hingga saat ini, yaitu ketika para pemimpin ASEAN memusatkan tenaga untuk merespons dampak krisis di Selat Hormuz dengan tanggung jawab dan linimasa jelas.
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































