Pakar AS nilai reaktor nuklir modular kecil cocok untuk RI

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Nuclear Stakeholder Engagement Consultant Amerika Serikat, Kelle Barfield, menilai teknologi reaktor nuklir modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) berpotensi menjadi solusi untuk mendukung ketahanan energi nuklir di Indonesia yang memiliki wilayah luas dan terdiri atas ribuan pulau.

Saat berbicara pada Diskusi Panel “American Leadership in Clean Nuclear Strategy” di @america Jakarta, Selasa, Barfield, menilai bahwa tantangan Indonesia tidak hanya memproduksi listrik, tetapi juga memastikan pasokan energi dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah kepulauan.

“Karena ukurannya lebih kecil, SMR dapat ditempatkan di wilayah yang lebih terpencil atau di lokasi dengan kebutuhan energi yang tinggi, seperti kawasan pertambangan. Dengan demikian, SMR dapat mendukung kebutuhan listrik di berbagai wilayah Indonesia secara lebih mudah dan fleksibel,” katanya.

Selain fleksibilitas penempatan, SMR juga dinilai memiliki waktu pembangunan yang lebih singkat dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas besar.

Kondisi itu dinilai dapat mempercepat penyediaan listrik bagi wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan energi.

Barfield menyinggung proyek reaktor nuklir BWRX-300 di Darlington, Kanada, yang saat ini tengah dibangun.

Menurut dia, proyek tersebut menargetkan dapat mulai beroperasi dalam waktu sekitar tiga tahun sejak konstruksi dimulai.

Lebih lanjut, pakar yang terlibat dalam pengembangan kapasitas melalui Badan Energi Atom Internasional (IAEA) itu menyampaikan bahwa Amerika Serikat terus mendukung pengembangan kapasitas nuklir Indonesia melalui berbagai program kerja sama, termasuk bantuan teknis dalam pemilihan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan kajian kesiapan infrastruktur.

Menurut Barfield, dukungan tersebut dilakukan melalui program Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST), yang membantu negara mitra menentukan jenis teknologi SMR yang paling sesuai dengan kebutuhan nasional.

“Amerika Serikat memiliki beberapa program yang dapat mendukung Indonesia. Salah satunya adalah program FIRST, yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dasar untuk penggunaan teknologi SMR yang aman dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menilai kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat di sektor nuklir berpotensi berkembang seiring meningkatnya minat terhadap teknologi SMR sebagai sumber listrik rendah emisi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan ketahanan energi.

Barfield menambahkan bahwa pengembangan tenaga kerja dan pendidikan menjadi aspek penting dalam persiapan program nuklir.

Menurut dia, pertukaran mahasiswa, program pelatihan, dan kerja sama antar universitas dapat membantu menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan apabila Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis SMR pada masa mendatang.

Hadir pada kesempatan yang sama, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani menyampaikan bahwa DEN mempertimbangkan pemanfaatan teknologi SMR karena lebih sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, terutama untuk wilayah terpencil.

Meski biaya investasi SMR relatif lebih tinggi, Inten menilai teknologi tersebut tetap lebih efisien dibandingkan penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak, seperti High Speed Diesel (HSD). Namun, ia mengakui bahwa teknologi SMR masih berada dalam tahap pengembangan di berbagai negara.

Sementara itu, Indonesia cenderung hanya mengadopsi teknologi yang telah terbukti dan berstatus komersial guna meminimalkan risiko tata kelola serta operasional.

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |