Pelabuhan Cirebon menyulam ulang identitas maritimnya

3 hours ago 1
sejarah pelabuhan Cirebon memperlihatkan bagaimana daerah ini sejak awal tumbuh sebagai kota pesisir yang terbuka terhadap dunia luar

Cirebon (ANTARA) - Tak ada yang menyangka gudang tua di Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat, itu bisa disolek menjadi panggung visual yang mengundang decak kagum kawula muda.

Dinding kusam yang sudah termakan usia itu dipenuhi visual holografik, menampilkan motif batik penuh warna, ornamen wayang serta simbol-simbol kosmis yang berubah mengikuti ritme cahaya.

Dari kejauhan, karya tersebut terlihat seperti altar digital yang hidup di tengah bangunan tua pelabuhan.

Instalasi itu merupakan hasil kolaborasi seniman Cirebon Made Castra dan M Hafiz Maha dalam ajang Festival Komunitas Seni Media (FKSM) yang dihelat di Pelabuhan Cirebon pada medio November 2025.

Keduanya memadukan lukisan, visual digital, dan teknologi akal imitasi (AI) dalam instalasi bertema Asta Brata, yakni ajaran lama Nusantara tentang sifat alam sebagai teladan seorang pemimpin.

Suasana pelaksanaan FKSM di Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.

Unsur alam tersebut misalnya matahari yang memberi kehidupan, air menghadirkan ketenangan, api melambangkan ketegasan, sementara angin menggambarkan kemampuan menjangkau semua lapisan tanpa membeda-bedakan.

Made Castra mengatakan makna filosofis yang diwariskan para leluhur itu diterjemahkan kembali melalui bahasa visual kontemporer.

Namun gagasan itu, menurut dia, perlahan seperti tertidur di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Oleh karenanya karya tersebut dipamerkan sebagai ruang perenungan.

Para pengunjung diajak masuk ke dalam visual yang terus bergerak, seolah sedang “diruwat” dari kebisingan zaman saat ini.

“Jadi saya ingin mengajak para pemimpin merenungkan sifat alam tadi. Semua orang pemimpin, termasuk saya, sampai presiden adalah pemimpin,” ujar seniman tersebut kepada ANTARA.

Bagi Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Ahmad Mahendra, suasana di Pelabuhan Cirebon dalam kegiatan itu mengingatkannya pada ruang-ruang seni di Venice Biennale, Italia.

Pemilihan Cirebon sebagai lokasi penyelenggaraan FKSM bukan tanpa alasan. Kota pelabuhan ini memiliki sejarah peradaban yang panjang.

Kehadiran keraton, jalur perdagangan, hingga pelabuhan menjadi penanda bahwa Cirebon sejak lama tumbuh sebagai ruang pertemuan berbagai budaya.

FKSM pun dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan banyak unsur. Para seniman berkolaborasi, tradisi dipadukan dengan teknologi, sementara komunitas lokal diberi ruang untuk membangun panggungnya sendiri.

Hikayat

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |