Badung (ANTARA) - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengambil peluang dari kondisi melemahnya rupiah atas dolar untuk menggaet wisatawan mancanegara.
“Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini.
Ayu Marthini di sela pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 di Kabupaten Badung, Jumat, menjelaskan potensi bagi pariwisata dengan tingginya nilai dolar AS adalah banyak wisatawan yang memutuskan berlibur ke Indonesia.
“Kalau kami melihat dari kacamata konsumen atau wisatawan terutama mancanegara ya, tentu dengan pelemahan rupiah buat mereka ini nilai terbaik untuk uang, contoh dulu Rp1 juta bisa beli apa, sekarang bertam ah dia, ini membuat daya tarik tersendiri,” ujarnya.
Kemenpar mengajak pelaku usaha pariwisata memanfaatkan situasi ini, sebab secara riil dampak dari pelemahan rupiah terhadap kunjungan wisman sudah terasa pada meningkatnya kunjungan asal Malaysia.
“Terbukti sekarang kita lihat negara tetangga, Malaysia, kan cukup kuat mata uangnya, ketika kita melemah itu value mereka untuk ke sini malah berlipat-lipat, lebih banyak, lebih tinggi, itu menjadi daya tarik,” kata Ayu Marthini.
Selain itu harga paket wisata di Indonesia akan terasa lebih terjangkau bagi wisman, sehingga pelaku usaha pariwisata diminta gencar melakukan promosi agar semakin banyak pengunjung yang memilih Indonesia.
Namun demikian, di balik peluang pelemahan rupiah, Kemenpar juga meminta pelaku usaha pariwisata melihat ke arah tantangannya.
Salah satu tantangannya, dunia saat ini dihadapkan pada dinamika konflik geopolitik yang menyebabkan harga bahan bakar melonjak, pada akhirnya biaya penerbangan tinggi membuat calon wisatawan berpikir panjang untuk berlibur.
Selain itu seperti Eropa, ketika mereka hendak ke Indonesia mereka mesti melewati Timur Tengah, sehingga banyak ketakutan menghantui.
Pada kondisi ini, Kemenpar memberi solusi mulai beralih dari sepenuhnya berharap pada wisatawan jarak jauh, kini menyasar wisatawan terdekat yaitu dari kawasan Asia dan Australia.
“Cari cara mitigasinya, kita ganti, belok, dulunya kita mencari jauh-jauh daerah Eropa dan Amerika, sekarang realistis Asia, ASEAN, Australia, cuma memang betul pasar Eropa-Amerika lama tinggalnya panjang 3 minggu sampai sebulan sedangkan dari Asia sebentar-sebentar, ini harus dikombinasi,” tuturnya.
Tantangan lainnya pada produk pariwisata, dimana Kemenpar mengakui banyak produk impor yang dibutuhkan pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan wisatawannya.
Di tengah pelemahan rupiah, pelaku pariwisata harus mencermati biaya impor yang tinggi, namun di sisi lain kebutuhan wisatawan harus dipenuhi sehingga dapat menyeimbangkan antara impor produk dengan mengoptimalkan produk dalam negeri.
“Kalau impor misalnya keju mahal kan dari sana, jadi bisa keju lokal, wisatawan mancanegara itu menghargai yang lokal sebetulnya tapi sebagai produsen baik restoran atau hotel, pada saat yang sama kan banyak juga wisman yang memang mau cari yang barang-barang yang dia biasa pakai begitu nah ini tinggal bagaimana menyeimbangkannya,” ujarnya.
Baca juga: Menpar ingin ajang BBTF tarik minat wisatawan jelajahi Indonesia
Baca juga: Korsel berlakukan bebas visa sementara bagi turis Indonesia
Baca juga: Pemerintah berupaya tingkatkan kunjungan wisatawan Malaysia ke Kepri
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































