Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memaparkan sejumlah pemicu, termasuk perankingan capaian akademik berpotensi memunculkan perilaku perundungan di kalangan murid.
Ia mengingatkan keberhasilan layanan pendidikan haruslah ditentukan oleh kondisi lingkungan fisik dan sosial yang aman dan nyaman sehingga setiap murid dapat belajar dengan sebaik-baiknya.
"Aman itu juga aman secara sosial dan aman secara psikologis, karena seringkali kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman," kata Mendikdasmen Mu'ti dalam kegiatan bertajuk Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat pada Senin.
Adapun keamanan secara intelektual, lanjutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aman, nyaman dan inklusif.
Berkenaan dengan hal tersebut, ia mengatakan perankingan capaian akademik dapat menimbulkan kondisi perbandingan diantara para murid yang tidak jarang berakhir menjadi penyebab terjadinya perundungan.
“Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, yang gede kok gak bisa, ini yang kecil aja bisa itu kan tidak sehat,” kata Mu'ti.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya peran guru dalam mengubah cara pandang murid terhadap proses belajar beserta hasilnya yang berupa angka maupun ranking.
Baca juga: Kemendikdasmen kunci Dapodik cegah praktik jual beli kursi di SPMB
Perubahan cara pandang itu, lanjutnya, dituangkan Kemendikdasmen dalam kebijakan deep learning.
Kata kunci pertama dalam pelaksanaan deep learning ialah memuliakan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.
“Sehingga menurut saya memang ada realitas dimana cara kita melakukan pendekatan kepada murid-murid itu harus berubah the way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka,” ujarnya.
Baca juga: Soal bobot TKA dalam SPMB, Kemendikdasmen: Tergantung juknis Pemda
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































