Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Instagram mengeklaim bahwa Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengaku menyesal pernah menjadi relawan pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Unggahan tersebut menampilkan potongan video Dasco bersama beberapa pejabat lain saat memberikan keterangan pers.
Video itu juga disertai audio yang mengklaim Dasco kecewa terhadap kepemimpinan Prabowo dan meminta presiden mundur dari jabatannya.
Berikut narasi dalam unggahan tersebut:
“Prabowo Prabowo gimana janjimu dulu waktu kampanye”
Namun, benarkah video Sufmi Dasco Ahmad mengaku menyesal menjadi pendukung Prabowo?
Unggahan yang menarasikan video Dasco mengaku menyesal jadi relawan pendukung Prabowo. Faktanya, video dalam unggahan tersebut merupakan suntingan. (Instagram)Penjelasan:
Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah dan media kredibel yang menyatakan bahwa Sufmi Dasco Ahmad menyesal pernah menjadi relawan pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Faktanya, video dalam unggahan tersebut identik dengan dokumentasi konferensi pers yang dimuat YouTube Liputan6 di Gedung DPR RI pada 31 Juli 2025.
Dalam kesempatan itu, Dasco memberikan keterangan pers bersama pimpinan Komisi III DPR RI, Menteri Sekretaris Negara, dan Menteri Hukum.
Dalam video aslinya, Dasco tidak membahas penyesalan menjadi relawan maupun mengkritik kepemimpinan Prabowo.
Ia justru menyampaikan pernyataan resmi terkait pemberian abolisi kepada mantan Menteri Perdagangan, Tom Lembong, serta amnesti kepada Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto.
Selain itu, terdapat kejanggalan pada video yang beredar karena gerakan bibir Dasco tidak sinkron dengan suara audio yang terdengar. Hal tersebut mengindikasikan adanya manipulasi audio pada video tersebut.
Dengan demikian, klaim yang menyebut Sufmi Dasco Ahmad menyesal menjadi relawan pendukung Prabowo Subianto merupakan informasi tidak benar atau hoaks.
Rating: Hoaks
Pewarta: Tim JACX
Editor: M Arief Iskandar
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































