Pakar ITB: Fenomena 'acoustic shadow' di balik dentuman di Bandung

2 weeks ago 21
...Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan

Bandung (ANTARA) - Pakar Vulkanologi dari ITB Mirzam Abdurrachman menilai fenomena atmosfer acoustic shadow zone (zona bayangan suara) menjadi hipotesis ilmiah paling memungkinkan untuk menjawab teka-teki dentuman misterius di Bandung Raya pascaerupsi Gunung Anak Krakatau.

Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini di Bandung, Minggu, mengatakan mekanisme acoustic shadow zone menjelaskan alasan teknis gelombang suara erupsi tidak terdengar jelas di wilayah pesisir yang dekat dengan kawah Selat Sunda, namun justru memantul dan kembali terdengar sangat pekat di wilayah pegunungan Jawa Barat yang berjarak ratusan kilometer.

Mirzam memaparkan, perbedaan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu dapat membuat gelombang suara mengalami pembiasan ke atas (upward refraction) hingga melewati zona bayangan, sebelum akhirnya dibelokkan kembali ke permukaan tanah di lokasi yang jauh.

"Sebagian energi suara yang bergerak di atas zona bayangan dapat mengalami scattering atau penyebaran akibat turbulensi atmosfer. Dalam kondisi tertentu, gelombang tersebut juga dapat mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali mencapai permukaan di tempat yang lebih jauh," ujar Mirzam.

Baca juga: Apa itu skyquake yang dikaitkan dengan dentuman keras di Bandung

Meski demikian, Mirzam menekankan bahwa kemunculan erupsi Anak Krakatau dan suara dentuman dalam waktu berdekatan belum cukup menjadi bukti final hubungan sebab-akibat tanpa pembuktian data saintifik.

"Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya. Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik, bukan sebuah kesimpulan. Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan," ucapnya.

Pendapat ini sekaligus menjembatani silang pendapat antara Badan Geologi yang menduga kuat keterkaitan dentuman dengan erupsi lava fountain Krakatau, serta BMKG yang menyatakan tidak ada rekaman aktivitas seismik lokal di Bandung Raya, serta tidak adanya angin yang mengarah ke Timur yang mendukung terjadinya fenomena tersebut.

Guna membuktikan korelasi tersebut, kata dia, tim peneliti masih harus mencocokkan jeda waktu kedatangan gelombang suara, karakteristik sinyal, topografi wilayah, hingga dinamika atmosfer Jawa bagian barat.

Terkait tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih bertahan di Level III (Siaga), dia turut mengimbau masyarakat tidak panik, meningkatkan literasi bencana, serta mematuhi batas aman steril radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Baca juga: BMKG: Dentuman di Bandung tak berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau

Baca juga: PVMBG pastikan suara dentuman di Bandung bukan karena vulkanik

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |