OANA didorong bentuk "fact-checking" bersama atasi disinformasi

3 hours ago 4

Moskow (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mendorong Organisasi Kantor Berita Asia-Pasifik (OANA) membentuk mekanisme kerja permanen untuk memperkuat verifikasi berita lintas negara dalam menghadapi penyebaran disinformasi yang semakin diperparah oleh kecerdasan buatan (AI).

“Disinformasi bukan lagi semata persoalan media, melainkan akselerator berbagai risiko global. Jika disinformasi bergerak tanpa batas, maka kebenaran harus bergerak lebih cepat, bersama-sama,” kata Benny saat menjadi pembicara pertama pada sesi pembukaan Approaches to Counteracting the Spread of Disinformation and Fake News dalam Pertemuan Tahunan OANA ke-65 di Moskow, Rusia, Senin.

Benny menyampaikan materi bertajuk Navigating the Information Landscape in the Age of AI: Countering Disinformation, Strengthening Verification, and Building Public Trust di hadapan perwakilan kantor berita anggota OANA.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa teknologi AI telah mengubah proses penciptaan, distribusi, dan penerimaan informasi secara mendasar.

Menurut dia, AI generatif memungkinkan pembuatan teks, gambar, suara, dan video sintetis dalam skala besar, termasuk deepfake yang semakin sulit dibedakan dari materi autentik.

Kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran narasi palsu, memperbesar polarisasi sosial, menggerus kepercayaan terhadap media dan institusi, serta meningkatkan risiko bahaya dalam situasi pemilu, bencana, konflik, dan krisis kesehatan.

“AI harus diperlakukan sekaligus sebagai risiko dan alat verifikasi. Teknologi dapat membantu newsroom mempercepat pendeteksian, penerjemahan, pemeriksaan fakta, dan analisis pola, tetapi akuntabilitas editorial manusia tetap tidak dapat ditawar,” ujar Benny.

Ia mencontohkan Indonesia sebagai gambaran besarnya tantangan tersebut di kawasan Asia-Pasifik.

Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet, 331 juta koneksi seluler aktif, dan sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, sehingga narasi palsu dapat beredar dengan cepat di tengah masyarakat yang semakin mengandalkan perangkat seluler dan platform digital.

Benny mengatakan pergeseran konsumsi berita ke media sosial dan platform video membuat sistem rekomendasi algoritmik semakin menentukan informasi yang dilihat, dipercaya, dan dibagikan publik.

Karena itu, katanya, kantor berita harus memperkuat kecepatan verifikasi sekaligus memastikan informasi terkonfirmasi tetap mudah ditemukan masyarakat di tengah arus konten algoritmik.

“Bagi 41 anggota OANA, tantangan ini adalah panggilan untuk membangun ketahanan informasi bersama: memperkuat jurnalisme terpercaya, mempercepat verifikasi lintas batas, dan membangun tanggung jawab bersama untuk melindungi kepercayaan publik,” kata Benny.

Dalam forum tersebut, ANTARA juga menawarkan penguatan peran OANA dari jaringan pertukaran berita menjadi jaringan integritas informasi kawasan.

Usulan itu antara lain mencakup pembentukan jaringan verifikasi cepat dan sistem peringatan dini lintas negara, pertukaran metadata forensik untuk mendeteksi deepfake, penguatan literasi media lintas bahasa, standar etika AI bersama, serta kerja sama untuk lisensi konten yang adil dengan perusahaan AI.

Benny menambahkan bahwa kerja sama tersebut harus dapat menjembatani perbedaan kapasitas antarnegara dan model pendanaan kantor berita, baik yang dibiayai negara, berbasis layanan publik, komersial, maupun menggunakan model campuran.

Kerja sama perlu didasarkan pada bukti yang dapat diuji, tata kelola transparan, pendanaan berkelanjutan, serta jaminan bahwa sumber pembiayaan tidak memengaruhi kesimpulan editorial.

Mantan Deputi I Badan Komunikasi Pemerintah RI itu juga mengusulkan pembentukan gugus tugas OANA untuk AI dan disinformasi yang bersifat permanen, memiliki pendanaan memadai, dan bekerja secara operasional, bukan hanya melalui pertemuan seremonial.

Gugus tugas itu diharapkan dapat menyusun protokol respons krisis, berbagi bukti, memperkuat kapasitas newsroom, dan memperluas perlindungan terhadap integritas informasi di kawasan.

Sesi pertama Pertemuan Tahunan OANA turut menghadirkan pembicara dari Mehr News Agency dan Islamic Republic News Agency (IRNA) dari Iran, Bakhtar News Agency dari Afghanistan, serta perwakilan ANO “Dialog” dari Federasi Rusia.

OANA merupakan organisasi media yang menghimpun 41 kantor berita dari 35 negara di kawasan Asia-Pasifik. Pertemuan di Moskow tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 65 tahun berdirinya OANA.

Kawasan Asia-Pasifik mencakup sekitar dua pertiga informasi yang beredar di seluruh dunia, sehingga OANA memiliki potensi besar untuk memengaruhi ekosistem informasi global.

Baca juga: 35 kantor berita Asia Pasifik bahas penanganan disinformasi di Moskow

Baca juga: Delegasi Kantor Berita Asia Pasifik bertemu PM Vietnam

Pewarta: Andika Wahyu Widiantoro
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |