Pakar Gizi: MBG dan pendidikan saling memperkuat bangun SDM unggul

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Leni Sri Rahayu, mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendidikan saling memperkuat untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.

"Jika dilihat dari tujuan dan dampaknya, Program MBG tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan, justru saling memperkuat. Keduanya bertujuan mengoptimalkan kapasitas individu agar mampu belajar secara optimal dan hidup mandiri di masa depan," ujar Leni di Jakarta, Kamis.

Intervensi gizi sejak dini, khususnya pada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, hingga anak usia sekolah dan remaja, dipandang sebagai fondasi penting dalam meningkatkan kapasitas belajar dan kualitas hidup masyarakat di masa depan.

Leni juga mengatakan, salah satu tujuan utama MBG adalah menyediakan makanan dengan gizi layak sesuai kebutuhan kelompok sasaran, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah usia PAUD hingga SMA.

"Program ini menyediakan satu kali makan utama, baik pagi maupun siang, dengan harapan dapat meningkatkan akses penerima manfaat terhadap makanan bergizi yang layak," katanya.

Menurutnya, jika pelaksanaan MBG mengikuti standar gizi yang telah ditetapkan, maka program tersebut berpotensi signifikan meningkatkan status gizi masyarakat. Namun, ia menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi (monev) berkelanjutan untuk memastikan program berjalan efektif dan sesuai target.

Baca juga: Mendukbangga upayakan MBG untuk sasaran 3B jangkau wilayah 3T

Dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terus bertambah, perlu dipersiapkan evaluasi pelaksanaan agar Program MBG sesuai dengan tujuan seperti standar gizi hingga waktu distribusi. Selain itu, pengawasan tata kelola MBG harus terus diperkuat dengan berbagai dinamika yang terjadi, mengingat program ini memiliki alokasi anggaran yang besar.

Ia menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini disebut sebagai masa emas perkembangan otak.

"Kekurangan gizi pada 1.000 HPK berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif dan perkembangan motorik saat anak memasuki usia sekolah," ucapnya.

Berbagai penelitian, lanjut Leni, menunjukkan anak yang mengalami kekurangan gizi cenderung memiliki konsentrasi belajar yang rendah dan prestasi akademik yang tidak optimal.

Leni juga mengingatkan, gizi buruk dan stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang dan infeksi berulang, terutama pada periode awal kehidupan. Kondisi ini sangat krusial jika terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, yang merupakan fase penting pertumbuhan otak.

"Gangguan gizi pada masa ini dapat menimbulkan hambatan perkembangan otak yang bersifat permanen. Dampaknya bukan hanya kesehatan, tetapi juga kemampuan kognitif dan kemampuan belajar anak," tuturnya.

Baca juga: MBG di Gayo Lues dibagikan langsung kepada siswa di pengungsian

Leni mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan anak dengan stunting memiliki skor IQ sekitar 11 poin lebih rendah dibandingkan anak dengan status gizi normal. Kondisi ini berimplikasi langsung pada prestasi belajar, kesiapan sekolah, dan kualitas hasil pendidikan.

"Jika masalah gizi buruk dan stunting tidak ditangani secara serius, ini bisa mengganggu sistem pendidikan nasional karena kemampuan belajar peserta didik menjadi lebih rendah, sehingga menghambat peningkatan kualitas SDM secara keseluruhan," kata Leni.

Baca juga: BGN dorong menu kearifan lokal dalam program MBG di Kota Jambi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |