Jakarta (ANTARA) - Filsuf klasik Al-Ghazali pernah merumuskan manusia sebagai al-insanu hayawanun nathiq, atau makhluk hidup yang mampu berpikir dan bertutur.
Dalam pengertian itu, manusia memang masih bagian dari dunia biologis seperti makhluk lain, tetapi ia dibedakan oleh akal yang memberinya kemampuan untuk menimbang, memahami sebab-akibat, serta bertanggung jawab atas pilihannya.
Konsep tersebut bukan sekadar definisi filosofis, melainkan juga pengingat etik. Akal yang dimiliki manusia seharusnya menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan, bukan merusaknya.
Akal memberi manusia kapasitas untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi juga mengantisipasi. Tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga merawat.
Namun dalam praktiknya, keunggulan itu sering kali berbalik menjadi ironi. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, manusia justru cenderung mencari pihak lain untuk disalahkan, bahkan jika pihak tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memilih. Dalam konteks inilah, ikan sapu-sapu kerap menjadi sasaran empuk.
Di berbagai sungai perkotaan, terutama di wilayah padat seperti Jakarta dan sekitarnya, ikan sapu-sapu sering dilabeli sebagai biang kerok kerusakan ekosistem. Populasinya yang melimpah, bentuk tubuhnya yang dianggap “asing”, serta kemampuannya bertahan di air keruh membuatnya tampak seperti simbol dari sesuatu yang salah.
Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, keberadaan ikan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah interaksi manusia dengan alam.
Ikan sapu-sapu bukanlah spesies asli Indonesia. Ia berasal dari Amerika Selatan dan masuk melalui perdagangan ikan hias. Sejak awal, keberadaannya justru dimanfaatkan manusia sebagai pembersih akuarium karena kemampuannya mengonsumsi alga.
Masalah muncul ketika ikan ini dilepas ke perairan umum, baik karena ketidaksengajaan, kelalaian, maupun keputusan sadar ketika pemiliknya tidak lagi ingin memelihara. Dari titik inilah cerita berkembang menjadi lebih kompleks.
Baca juga: Terlanjur makan siomai ikan sapu-sapu? Ini kata peneliti BRIN
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































