Menata UMKM dari ruang publik: Upaya Ambon membangun ekonomi rakyat

2 hours ago 2
Membangun UMKM tidak lagi sekadar soal program atau bantuan. Ia menjadi proses merawat ekosistem di mana ruang, manusia, dan peluang saling terhubung, meski tidak selalu berjalan mulus.

Ambon (ANTARA) -

Ambon perlahan menata wajah ekonominya dari ruang-ruang yang selama ini dianggap sederhana. Di tengah upaya memperkuat ekonomi daerah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kembali ditempatkan sebagai fondasi utama bukan sekadar pelengkap.

Di sejumlah sudut kota, perubahan itu mulai tampak dalam bentuk yang lebih nyata. Ruang-ruang terbuka yang sebelumnya hanya menjadi tempat berkumpul kini beralih fungsi menjadi ruang produktif, tempat aktivitas ekonomi tumbuh berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat. Dari sinilah penataan UMKM mulai menemukan pijakannya, menyentuh langsung keseharian warga.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah penyediaan sarana usaha bagi pelaku UMKM. Pemerintah Kota Ambon telah menyalurkan 80 unit booth kontainer dan 200 etalase untuk mendukung aktivitas jualan masyarakat.

Ruang terbuka publik seperti Wainitu, Air Salobar, dan Amahusu pun mulai ditata tidak hanya sebagai ruang sosial, tetapi juga sebagai ruang ekonomi. Penataan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan usaha yang lebih tertib, higienis, dan memiliki daya tarik bagi masyarakat.

Selain fasilitas fisik, dukungan juga diberikan melalui akses pembiayaan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan bagi kelompok usaha bersama, hingga pengembangan usaha bagi ribuan UMKM. Pemerintah melihat bahwa penguatan sektor ini tidak bisa mengandalkan satu pendekatan saja, melainkan harus menyentuh berbagai aspek secara bersamaan.

Upaya ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kebutuhan untuk menjawab tantangan klasik yang dihadapi pelaku UMKM: keterbatasan modal, akses pasar, hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Salah satu langkah yang juga kini mulai diterapkan adalah penggunaan sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di sejumlah ruang terbuka publik, seperti Wainitu, Air Salobar, dan Amahusu. Upaya ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bagian dari strategi memperluas inklusi dan literasi keuangan di tengah masyarakat.

“Digitalisasi menjadi kebutuhan agar pelaku UMKM mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Melalui QRIS, transaksi diharapkan menjadi lebih efisien, transparan, dan mendorong pelaku usaha untuk lebih adaptif terhadap teknologi keuangan,” kata Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena.

Bodewin melihat ruang-ruang tersebut bukan hanya sebagai tempat berkumpul, melainkan sebagai titik awal membangun ekosistem ekonomi rakyat yang lebih inklusif. Dari sana, berbagai intervensi dilakukan—mulai dari penyediaan sarana usaha, edukasi keuangan, hingga dorongan digitalisasi.

Baca juga: UMKM Dive Ambon promosi wisata laut Maluku melalui produk suvenir

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |