Nominasi Ketua The Fed dari Trump tuai tanggapan beragam

2 hours ago 2

Washington (ANTARA) - Pencalonan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menuai tanggapan beragam dari para pakar dan politikus.

Beberapa pihak mengatakan Warsh, yang meyakini bahwa The Fed perlu mengubah cara pengoperasiannya dalam beberapa dekade terakhir, merupakan orang yang tepat untuk mengisi posisi tersebut. Sementara, pihak lain meragukan apakah Warsh hanya akan menerapkan cara kerja "asal bapak senang" bagi Trump.

Warsh memiliki "temperamen yang bijaksana dan pemahaman intelektual, serta kemampuan diplomatik yang diharapkan dalam mengemban apa yang disebut sebagai posisi menantang saat ini," ujar Raghuram Rajan, profesor ekonomi di Universitas Chicago sekaligus mantan kepala bank sentral India.

Dalam platform media sosial, Trump menulis bahwa dirinya "telah lama mengenal Kevin, dan (saya) tidak ragu dia akan menjadi salah satu Ketua The Fed yang HEBAT, mungkin yang terbaik."

Warsh, yang menempuh pendidikan di Harvard dan Stanford, tidak setuju dengan asumsi The Fed bahwa pertumbuhan yang cepat dapat mendorong inflasi. Sebaliknya, inflasi "terjadi saat pemerintah menggelontorkan dan mencetak terlalu banyak uang," tulis Warsh dalam sebuah artikel di The Wall Street Journal pada November lalu.

CNBC mengutip pernyataan Richard Saperstein, chief investment officer di Treasury Partners, yang menuturkan: "Pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed persis seperti yang diharapkan pasar, karena dia merupakan sosok yang tenang, dikenal baik di lingkungan pasar, dan diperkirakan akan mempertahankan independensi bank sentral, yang sangat penting bagi pasar."

Namun, beberapa pihak menyuarakan penolakan terhadap Warsh. Senator Partai Demokrat Elizabeth Warren turut mengamini pihak-pihak yang mengkritik Warsh karena mengubah pandangannya demi menenangkan Trump.

Foto arsip yang diambil pada 2 November 2017 menunjukkan Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell saat acara nominasi di Gedung Putih di Washington D.C., Amerika Serikat. (XinhuaYin Bogu)

"Itu persis seperti yang dilakukan oleh boneka kaus kaki. Jika Donald Trump mengatakan sesuatu, maka Kevin Warsh akan mengumandangkannya, meski bertentangan dengan semua hal yang telah dia lakukan selama bertahun-tahun," tutur Warren, yang juga menjabat sebagai anggota tinggi di Komite Perbankan, Perumahan, dan Urusan Perkotaan Senat AS.

Faktanya, Warsh mengubah pandangan publiknya terkait suku bunga. Dia merupakan pihak yang mengutamakan pemberantasan inflasi selama masa jabatannya di The Fed pada 2006-2011, tetapi kemudian menjadi pendukung kebijakan pemotongan suku bunga.

Kritikus menudingnya hanya mengikuti arahan Trump, yang telah lama menuntut agar The Fed menurunkan suku bunga.

Gary Clyde Hufbauer, nonresident senior fellow di Peterson Institute for International Economics, mengatakan kepada Xinhua: "Pada dasarnya, Warsh akan menerapkan cara kerja 'asal bapak senang' bagi Gedung Putih, sambil berupaya sebaik mungkin agar terlihat independen."

Dean Baker, salah satu pendiri Center for Economic and Policy Research, menuturkan kepada Xinhua: "Warsh lebih sering mengikuti arah kebijakan Trump, baik pada masa jabatan pertamanya maupun periode jabatannya saat ini."

"Saya tidak yakin Warsh akan seperti apa di The Fed. Secara umum, saya lebih memilih suku bunga yang lebih rendah, tetapi bukan atas permintaan Trump," ujar Baker.

Di sisi lain, kebijakan moneter ditetapkan oleh Komite Pasar Terbuka Federal yang beranggotakan 12 orang, dan ketua The Fed hanya memiliki satu suara.

"Warsh kemungkinan masuk ke sana (The Fed) dengan posisi yang lebih lemah dibandingkan ketua The Fed mana pun sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir, atau bahkan mungkin sepanjang sejarah. Dia harus bisa mengajukan argumennya sendiri. Orang-orang tidak akan begitu saja menuruti pendapatnya," tutur Baker.

Selama berbulan-bulan, Trump melancarkan kritik terhadap ketua The Fed saat ini, Jerome Powell. Dia melontarkan ejekan pribadi dan menyebut Powell sebagai orang yang "bebal", "dungu", dan "bandel" karena tidak menurunkan suku bunga lebih cepat.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |