Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan transisi dari kompor yang memasak menggunakan LPG menjadi kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG.
“Kami sudah hitung, masih akan lebih murah (transisi ke kompor listrik) daripada mengimpor LPG,” ujar Eddy kepada ANTARA ketika dihubungi dari Jakarta, Senin.
Eddy menyampaikan, ketika dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII yang saat itu membidangi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), DPR bersama PLN sudah menghitung bersama biaya yang dibutuhkan untuk beralih dari LPG ke kompor listrik.
Berdasarkan hitungan PLN pada 2022, konversi kompor LPG ke kompor induksi mampu menghemat APBN hingga Rp330 miliar per tahun untuk 300 ribu keluarga penerima manfaat pada tahun 2022.
Eddy menyampaikan, biaya yang dihitung untuk transisi ke kompor listrik meliputi pemberian kompor listrik, dua wajan penggorengan, serta pemasangan sambungan listrik terpisah secara gratis.
Berdasarkan perhitungan tersebut, Eddy mengatakan biaya yang dibutuhkan lebih ringan apabila dibandingkan dengan beban subsidi untuk menekan harga LPG.
“Jika kebijakan kompor listrik diberlakukan, kita harus pastikan kapasitas produksi kompor listrik nasional bisa memenuhinya, agar kita tidak impor kompornya,” ujar Eddy.
Mengubah kompor LPG menjadi kompor listrik menjadi sorotan Eddy, sebab harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kian meroket.
Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent (ICE) berada di atas 100 dolar AS per barel. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.
“Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,” ucap Eddy.
Ke depannya, lanjut dia, ia akan mendukung upaya pemerintah mempercepat proses elektrifikasi, baik di sektor transportasi, industri, serta memasak menggunakan kompor listrik.
Wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi).
Akan tetapi, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.
Baca juga: Pemerintah sebut program kompor listrik akan kembali dilanjutkan
Baca juga: Wakil Ketua MPR sebut kompor listrik mengurangi beban anggaran negara
Baca juga: Koki kepala daerah se-Jabar kenalkan masakan khas dan kompor listrik
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































