Makassar (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid mengapresiasi forum Internasional Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 diselenggarakan Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi, yang membahas ancaman siber terhadap anak di tengah arus pengaruh teknologi era digital.
"Perlindungan anak di ruang digital bukan hanya menjadi persoalan nasional, melainkan juga tantangan global yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak," paparnya melalui teleconference secara daring memperingati delapan tahun eksistensi ICEC 2026, Sabtu.
Menurut Meutya, platform digital kini tidak mengenal batas negara sehingga upaya melindungi anak dari berbagai risiko di ruang siber memerlukan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas disiplin ilmu.
"Teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, perundungan siber, hingga kecanduan platform," tuturnya.
Baca juga: Menkomdigi minta platform digital utamakan perlindungan anak
Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mengambil langkah melalui Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.
"PP Tunas dengan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus diberikan sesuai usia, tingkat kematangan, dan risiko yang dihadapi," ujar mantan Reporter Metro TV ini menekankan.
Ketua Panitia ICEC 2026 Dr Ajat menjelaskan, konferensi ini dirancang bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang kolaborasi global untuk memperkuat masa depan pendidikan anak usia dini (PAUD) di tengah arus transformasi digital.
Konferensi Internasional tersebut dilaksanakan secara hybrid dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, mengusung tema 'Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and Good Character Generation.
Baca juga: Sekolah-sekolah di Swedia kembali ke kertas khawatir dampak digital
Ketua Panitia ICEC 2026 Dr Ajat (kanan) berbincang dengan pembicara saat kegiatan memperingati The 8th International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 yang diselenggarakan Universitas Panca Sakti Bekasi, Sabtu (20/6/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Panitia Pelaksana ICEC.Sejauh ini transformasi digital semakin masif menghadirkan tantangan baru bagi dunia PAUD. Alasannya, kehidupan kini dipengaruhi layar gawai, internet, algoritma, maupun kecerdasan buatan atau AI.
Dunia Pendidikan juga dituntut mampu mempersiapkan anak-anak agar tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kemampuan sosial yang baik.
Baca juga: Pelaku usaha Jakarta dapat pelatihan fotografi dan digital marketing
Ia menilai tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan besarnya semangat para pendidik PAUD untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi menghadapi perubahan zaman.
"Pembicara dari sejumlah negara, dan ada 31 kelompok peneliti mendiseminasikan hasil risetnya melalui prosiding konferensi. Guru-guru PAUD dari berbagai daerah juga mengikuti forum internasional ini dengan semangat yang luar biasa. Ini menunjukkan PAUD Indonesia terus bergerak maju dan berkembang," katanya.
Konferensi ICEC 2026 digelar sehari mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, pemerhati PAUD dari berbagai negara. Forum ini menjadi wadah bertukar gagasan, strategi PAUD yang relevan dengan perkembangan teknologi, berakar nilai kemanusiaan, budaya, dan pembentukan karakter.
Melalui konferensi tersebut, peserta diharapkan mampu merumuskan berbagai inovasi dan rekomendasi untuk menjawab tantangan pendidikan anak usia dini di era digital, sehingga lahir generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap menghadapi masa depan.
Baca juga: Pemerintah perlu terapkan pendekatan komunitas untuk sosialisasi KBLI
Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































