Jakarta (ANTARA) - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyoroti momen dalam video unggahan di Instagram Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad yang menunjukkan Raffi dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terlihat berbaur dengan pengamen jalanan setelah menyaksikan pertandingan sepak bola.
Menurut Hensa, sapaan akrabnya, momen itu seharusnya ditiru oleh pejabat lain untuk turun ke lapangan dan merasakan kehidupan rakyat secara langsung. Pengalaman langsung seperti itu memberi ruang bagi pejabat untuk memahami sisi emosional dan sosial dari kehidupan masyarakat.
"Pejabat yang datang tanpa jarak protokoler dan mau ikut berbaur menunjukkan bentuk kepemimpinan yang lebih manusiawi," kata Hensa dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut menilai momen tersebut merupakan contoh nyata pejabat yang turut merasakan kegembiraan masyarakat kecil.
"Kalau pejabat mau turun dan menikmati hal sederhana bersama rakyat, mereka akan tahu betapa kecilnya hal-hal yang membuat warga bahagia. Ini bukan hanya soal pencitraan, ini soal mencicipi realita yang sehari-hari dialami jutaan orang," ujar Hensa.
Di sisi lain, ia juga mengamati bahwa momen-momen serupa jarang dilakukan oleh pejabat pemerintah. Ia menyebut kekhawatiran soal pencitraan sering menahan pejabat untuk tampil apa adanya di ruang publik.
Padahal, lanjutnya, meski momen Teddy dan Raffi seperti itu berpotensi dicap sebagai pencitraan, rekaman momen tersebut kerap menjadi catatan positif yang tersimpan lama di benak publik.
"Lebih baik dituduh pencitraan karena bernyanyi bersama pengamen daripada tidak pernah tahu bagaimana rasanya merayakan kemenangan kecil bersama-sama. Pencitraan itu boleh-boleh saja, selama output-nya positif," kata Hensa.
Kendati demikian, ia mengingatkan perlunya keseimbangan bahwa kehadiran spontan di publik harus tetap disertai tanggung jawab akan kinerjanya.
Ia pun mengharapkan lebih banyak pejabat menunjukkan keberanian serupa, selagi juga menegaskan pentingnya komitmen yang lebih dalam terhadap kesejahteraan rakyat.
"Perlu diingat kalau sudah menyatu dengan rakyat juga jangan lupa akan tanggung jawabnya dalam mensejahterakan mereka, itu penting dan kerap luput jika sudah memiliki massa," ucap Hensa.
Baca juga: Sabtu dini hari, Teddy dan Kepala BNN diskusi peredaran gelap narkoba
Baca juga: Seskab: Tahun Baru Islam jadi momentum muhasabah diri
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































