Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin memandang adanya potensi ekonomi untuk masyarakat setelah Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) mendapatkan hak siar Piala Dunia.
“Jaringan TVRI yang menjangkau seluruh Indonesia menjadi kekuatan besar. Ini bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari UMKM, komunitas, hingga kegiatan ekonomi berbasis kerakyatan,” ujar Cak Imin dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, dia memandang siaran Piala Dunia dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan ekonomi kreatif, karena pesta olahraga global tersebut tidak sekadar magnet untuk pecinta sepak bola.
“Piala Dunia ini bukan sekadar tontonan, melainkan juga momentum ekonomi. Jika dikelola dengan baik, maka dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Baca juga: Menko PM ingatkan penting berdayakan lansia sebagai subjek pembangunan
Oleh sebab itu, dia mendorong pemerintah dapat memperkuat kolaborasi dengan TVRI agar siaran Piala Dunia tidak hanya memberikan nilai hiburan, tetapi kesejahteraan masyarakat.
Terlebih, kata dia, jangkauan TVRI yang luas dapat membuat penonton Piala Dunia tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi menjangkau hingga berbagai daerah termasuk kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Menko PM fasilitasi 2 santri korban ambruk Khoziny berlibur di Jakarta
Sebelumnya, TVRI telah memperoleh hak siar Piala Dunia 2026 untuk wilayah Indonesia, dan akan menayangkan seluruh pertandingan secara terestrial atau free to air (FTA/gratis).
Seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan ditayangkan melalui kanal TVRI Sport dan TVRI Nasional secara simultan pada 11 Juni-19 Juli 2026 mulai pukul 23.00 WIB hingga 11.00 WIB.
Secara keseluruhan akan ada 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dari babak penyisihan hingga partai final.
Pewarta: Rio Feisal
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































