Menguji napas UMKM di lantai bursa

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Wajah pasar modal Indonesia di awal 2026 menyuguhkan pemandangan yang cukup paradoksal.

Di satu sisi, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melantai melalui Papan Akselerasi menunjukkan pertumbuhan angka yang masif, bahkan indeksnya sering kali melampaui performa saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip di Papan Utama.

Di sisi lain, bayang-bayang delisting atau penghapusan pencatatan paksa justru menghantui puluhan emiten kecil lainnya.

Fenomena ini memicu pertanyaan krusial yang harus segera dijawab: apakah masuknya UMKM ke bursa merupakan strategi pertumbuhan yang berkelanjutan, ataukah sekadar euforia pencarian modal instan yang rentan berakhir tragis di tengah jalan?

Problem utama yang muncul ke permukaan adalah adanya kesenjangan yang lebar antara fluktuasi harga saham di layar monitor dengan daya tahan fundamental perusahaan di lapangan.

Banyak UMKM terjebak dalam pusaran gejolak harga yang tajam yang didorong oleh sentimen investor ritel yang agresif, bukan oleh kinerja operasional yang kokoh dan terukur.

Sebagaimana disitir dari laporan perkembangan pasar modal di laman idx.co.id, keberadaan emiten di Papan Akselerasi memang dirancang untuk memberikan ruang bagi perusahaan dengan aset skala kecil di bawah ambang batas Rp50 miliar, namun kemudahan akses ini sering kali disalahartikan sebagai pelonggaran standar kelangsungan usaha.

Ketidaksiapan transisi dari manajemen keluarga yang cenderung tertutup menuju korporasi publik yang transparan menjadi batu sandungan utama yang sangat serius.

Ketika sebuah UMKM memutuskan untuk "go public", pemilik usaha sebenarnya tidak hanya sedang menjual lembaran saham, melainkan sedang menyerahkan sebagian kedaulatan perusahaan kepada masyarakat luas.

Di sinilah letak titik apinya; masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki literasi hukum korporasi yang memadai untuk menghadapi ketatnya pengawasan regulator serta ekspektasi investor publik yang kerap tidak sabar menunggu hasil dividen.

Tanpa pembenahan fundamental, panggung bursa justru bisa menjadi beban yang menenggelamkan potensi asli UMKM tersebut.

Daya tahan fundamental

Daya tahan UMKM di pasar modal sangat bergantung pada kemampuan mereka mentransformasi struktur biaya dan efisiensi operasional pasca-IPO.

Mengutip data statistik ekonomi dari berbagai media, tekanan inflasi dan fluktuasi daya beli domestik menjadi ujian nyata bagi emiten yang hanya mengandalkan satu lini produk, tanpa diversifikasi yang matang.

UMKM yang mampu bertahan adalah mereka yang berhasil memanfaatkan dana hasil penawaran umum perdana bukan untuk sekadar menutup utang lama atau membiayai gaya hidup pemiliknya, melainkan untuk memperkuat infrastruktur digital, riset produk, dan efisiensi rantai pasok.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |