Mengubah limbah aren menjadi karya seni bernilai ekonomi

2 hours ago 4
Selama ini batang pohon aren itu sama sekali tidak termanfaatkan

Gorontalo (ANTARA) - Batang pohon aren yang biasanya dibiarkan mengering dan tak termanfaatkan kini menemukan wujud baru. Di tangan perupa, kayu itu menjelma menjadi meja, kursi, lemari, hingga rak, melalui sentuhan seni kriya.

Gagasan memanfaatkan batang aren itu dikembangkan dalam kegiatan yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek melalui Program Pengabdian Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang diketuai I Wayan Sudana.

Program tersebut merupakan hilirisasi hasil penelitian Wayan beberapa tahun sebelumnya untuk mengolah limbah batang aren menjadi produk seni yang memiliki nilai ekonomis.

Gagasan itu berangkat dari kondisi batang aren yang selama ini belum banyak dimanfaatkan setelah pohonnya tidak lagi produktif. Pada umur tertentu, pohon aren mengering, sebagian ditebang dan sebagian lainnya roboh dengan sendirinya. Di Gorontalo batang-batang pohon aren banyak terbengkalai meskipun bagian pinggir kayunya tergolong kuat.

“Selama ini batang pohon aren itu sama sekali tidak termanfaatkan,” kata Wayan.

Padahal, kayu aren pernah dimanfaatkan masyarakat untuk sejumlah kebutuhan. Wayan menyebut kayu tersebut pada masa lalu digunakan sebagai bahan alat-alat pertanian. Di Gorontalo, kayu aren juga digunakan sebagai salah satu bahan tempat menyimpan beras.

Dari kondisi itu muncul gagasan mengolah batang aren menjadi art furniture. Material tersebut dipadukan dengan kayu dan diberi ornamen sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai artistik.

Sentuhan seni

Furnitur berbahan limbah batang pohon aren yang dihiasi ornamen ikan yang berada di Hartdisk Studio, Gorontalo, Kamis (13/8/2026). (ANTARA/Faradila Alim)

Batang aren yang sebelumnya dianggap tidak termanfaatkan mulai menemukan bentuk baru ketika dipertemukan dengan gagasan seni. Wayan tidak sekadar menggunakan material tersebut sebagai bahan furniture, tetapi mengolah karakter alaminya dan menggabungkannya dengan unsur lain agar memiliki nilai artistik.

Prosesnya dimulai dari pencarian dan pemilihan batang aren bersama mitra. Dari satu batang, sekitar 60 hingga 70 persen bagian bawah dapat digunakan, sementara bagian atas yang masih muda tidak digunakan.

Batang yang terpilih kemudian dipotong sesuai ukuran dan dikeluarkan bagian sagunya. Setelah itu, batang dibentuk menjadi bulatan-bulatan menyerupai pipa dan disesuaikan dengan desain yang dibuat secara kolaboratif.

Desain tidak dibuat secara kaku. Hasil penelitian Wayan menjadi inspirasi awal, sementara mitra dapat mengembangkan gagasan baru dalam proses penciptaan karya. Dari proses tersebut, karakter batang aren kemudian dipadukan dengan kayu sebagai bagian meja, kursi maupun lemari.

Sentuhan seni semakin kuat melalui ornamen yang ditempatkan pada bagian tertentu, terutama bagian pinggir. Ornamen tersebut mengambil inspirasi dari pakaian adat Gorontalo, serta bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam seperti daun woka, ikan dan tumbuh-tumbuhan yang merupakan tumbuhan endemik Gorontalo.

Setelah bentuk dan ornamen selesai, karya memasuki tahap pewarnaan dan penyelesaian. Produk yang telah selesai kemudian dipamerkan untuk melihat sekaligus menentukan arah pasar dari karya yang dihasilkan.

Peluang ekonomi

Perajin art furniture I Wayan Sudjana, Kamis (13/8/2026), memperlihatkan karya furnitur berbahan limbah batang pohon aren sebelum ditambahkan ornamen. (ANTARA/Faradila Alim)

Bagi Wayan, proses tersebut tidak berhenti pada selesainya karya atau berakhirnya program pengabdian. Target akhirnya adalah kelompok perupa yang menjadi mitra dapat memproduksi art furniture secara mandiri setelah program selesai.

Program tersebut telah menjadi komitmen bersama untuk menjadi salah satu materi produksi kelompok perupa. Dengan demikian, para perupa dapat mengartikulasikan ide sekaligus memperoleh dampak ekonomi dari karya yang mereka hasilkan.

Produk yang dikembangkan berbasis art furniture, mulai dari meja, kursi hingga lemari. Untuk meja terdapat meja tunggal dan meja tamu, sementara kursi dibuat dalam bentuk kursi tunggal.

Salah satu karya memanfaatkan batang pohon secara utuh sehingga karakter alaminya tetap terlihat. Material tersebut kemudian diolah menjadi meja yang memiliki bentuk unik.

Wayan menargetkan sedikitnya delapan jenis produk art furniture dapat dihasilkan dengan memanfaatkan lima batang aren.

“Target kita sesuai dengan hasil riset saya itu minimal untuk ini bisa menyelesaikan delapan jenis produk art furnitur dengan memanfaatkan lima batang aren,” ujarnya.

Inovasi tersebut kemudian menemukan ruang kolaborasi bersama Hartdisk Studio yang menjadi mitra dalam kegiatan inovasi seni ini.

Bagi Hartdisk, gagasan mengolah limbah batang aren menawarkan sesuatu yang menarik dalam pengembangan seni kriya.

Bagi Hartdisk Studio, inovasi yang ditawarkan Wayan dan tim menarik karena limbah batang aren bukan hanya kurang dimanfaatkan di Gorontalo, tetapi juga di banyak tempat di Nusantara.

Kehadiran Hartdisk sebagai mitra disambut dengan rasa senang dan bangga. Kolaborasi tersebut memberi kesempatan bagi pemuda dan warga masyarakat untuk belajar bersama memanfaatkan limbah batang aren menjadi karya seni kriya.

Tentu saja, keberlanjutan menjadi hal yang diharapkan setelah program berakhir. Pemuda dan masyarakat diharapkan dapat melanjutkan pengembangan produk yang telah dipelajari selama program berlangsung.

Karya-karya tersebut juga diharapkan memiliki ruang pemasaran yang lebih luas melalui platform digital, media sosial maupun situs web Hartdisk.

Dari sesuatu yang sebelumnya tidak termanfaatkan, lahir sebuah karya. Bukan hanya menjadi bahan furniture, batang aren kini menjadi medium untuk mempertemukan seni, pemanfaatan limbah dan peluang ekonomi kreatif di Gorontalo.

Furnitur berbahan limbah batang pohon aren yang dihiasi ornamen terinspirasi pakaian adat Gorontalo serta bentuk alam seperti daun woka, ikan, dan tumbuhan endemik Gorontalo yang berada di Hartdisk Studio, Gorontalo, Kamis (13/8/2026). (ANTARA/Faradila Alim)

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |