Mengenalkan budaya Indonesia di AS melalui "diplomasi tempe"

1 day ago 4
Kalau tercoreng, yang tercoreng bukan nama pribadi saja. Pasti akan dibawa ke negara asal

Boston, Amerika Serikat (ANTARA) - Diplomasi tidak selalu lahir dari rumitnya relasi antarnegara yang tersaji rapi di meja-meja kongres, tempat para petinggi negara mempertimbangkan untung rugi koneksi kebangsaan.

Alih-alih itu, diplomasi bisa muncul dari hal sederhana. Salah satunya dari hobi dan kesenangan, yang merambat dan tanpa disadari berdampak besar bagi kepentingan bangsa.

Salah satu yang berada di barisan tersebut adalah BOStempeh, produsen tempe di Somersworth, New Hampshire, Amerika Serikat (AS), yang sepenuhnya dimiliki warga negara Indonesia.

Daniel Kurnianto dan sang istri, Meylia Handayani Tio, adalah sosok utama di balik bisnis itu. Bersama Octavianus Asoka dan Aristiya Dwiyanti, yang juga pasangan suami-istri, mereka mendirikan pabrik tempe BOStempeh pada tahun 2020, yang berawal dari industri rumah tangga tiga tahun sebelumnya.

Dasarnya sederhana, mereka suka makan tempe. Namun, perjalanan menuju lahirnya BOStempeh tidak sesederhana itu. Mereka membutuhkan waktu beberapa tahun untuk mempersiapkan semuanya, termasuk melakukan berbagai riset demi menghasilkan tempe berkualitas tinggi.

Mereka juga belajar langsung dari Soetono Liem, produsen tempe Hienak di Surabaya melalui UD Pendekar Tempe Sakti. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari upaya mereka untuk memahami proses produksi dan menghasilkan tempe dengan kualitas terbaik.

Keempat sosok di balik BOStempeh menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup soal pembuatan tempe. Dari antara mereka, cuma Octavianus yang berpengalaman bekerja secara profesional di bidang pengolahan makanan.

Meylia, contohnya, berlatar belakang seorang pendidik yang menuntaskan pascasarjananya di Boston University, dengan beasiswa penuh dari Departemen Luar Negeri AS dan Kelly Elizabeth Stephens Memorial Scholarship (KESSA) mulai tahun 2005 dengan fokus pendidikan dua bahasa (bilingual). Sebelumnya, perempuan asal Jawa Tengah itu menamatkan S1 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Kegiatan akademis itu yang membuatnya hijrah dan akhirnya akrab dengan Kota Boston. Suaminya, Daniel Kurnianto, semula hanya menemani Meylia menunaikan studinya.

Akan tetapi, di awal perkuliahan Meylia, Daniel diterima di sebuah perusahaan bioteknologi AS. Perusahaan inilah yang menjadi alasan pasangan tersebut menetap di Massachusetts setelah Meylia kembali ke Salatiga untuk mengabdi di kampus asalnya selama dua tahun seusai lulus dari Boston.

Baca juga: Dua talenta Indonesia dikirim ke Boston berkat inovasi kesehatan

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |