Jakarta (ANTARA) - Digitalisasi pengelolaan bangunan dinilai menjadi salah satu solusi untuk menekan konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di tengah meningkatnya kebutuhan listrik sektor bangunan.
Penerapan sistem manajemen energi berbasis digital bahkan berpotensi mengurangi konsumsi listrik hingga 15 persen jika diterapkan secara bertahap.
Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia Reza Syarif mengatakan sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang konsumsi energi dan emisi karbon terbesar sehingga peningkatan efisiensi di sektor ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi serta biaya operasional.
"Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan dan kenyamanan pengguna," ujar Reza di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan sekitar 30 persen energi di gedung masih terbuang akibat pengelolaan yang belum optimal. Menurutnya, penerapan sistem Building Management System (BMS) maupun Building Automation System (BAS) memungkinkan pengelola memantau konsumsi energi secara real time, mendeteksi pemborosan, serta mengoptimalkan penggunaan listrik sesuai kebutuhan aktual.
Baca juga: Pramono terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air pada Bangunan Gedung
Reza menambahkan digitalisasi tidak hanya dapat diterapkan pada bangunan baru. Gedung yang telah lama beroperasi juga dapat melakukan transformasi secara bertahap melalui audit energi untuk menentukan area prioritas tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur sekaligus.
Selain investasi teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting karena pengelolaan bangunan berbasis digital membutuhkan perubahan pola kerja menuju pengambilan keputusan berbasis data.
Penerapan sistem tersebut telah dilakukan di SMC RS Telogorejo Semarang. Facility Manager SMC RS Telogorejo Rio Oktavianus mengatakan rumah sakit berhasil menurunkan konsumsi listrik sekitar 5 persen pada 2025 dibandingkan 2024 setelah implementasi penuh BMS, dengan target efisiensi mencapai 10-15 persen setiap tahun.
Menurut Rio, sistem digital memungkinkan pemantauan utilitas seperti HVAC, kelistrikan, UPS, dan kualitas udara secara real time sehingga potensi gangguan dapat dideteksi lebih awal. Selain menghemat energi, sistem tersebut juga mendukung pemeliharaan prediktif yang meningkatkan keandalan operasional rumah sakit.
Baca juga: Studi SETI: Hanya 1,6 persen bangunan patuhi pelaporan energi
Baca juga: Studi SETI sebut AC sebagai beban energi terbesar bangunan
Baca juga: Studi SETI sebut AC sebagai beban energi terbesar bangunan
Pewarta: Ida Nurcahyani/Vina Ashari
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































