Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Di loteng sebuah rumah dengan luas sekitar 40 meter persegi itu, udara siang yang terik membuat gerah karena panas atap seng, ruang sempit, dan rak-rak sederhana yang menjadi saksi awal sebuah percobaan yang tampak tidak menjanjikan, yakni 70 botol plastik bekas disusun sebagai sistem hidroponik.
Sebuah rumah sederhana yang memiliki loteng sempit itu merupakan tempat tinggal Arif Hermawan (28), warga Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang disulap menjadi kebun hidroponik sayuran selada.
Saat mengawali bertanam hidroponik pada tahun 2019, hari-hari awal tidak memberi harapan karena bibit selada yang ditanam tidak tumbuh sebagaimana mestinya: akarnya lemah, daun menguning, dan sebagian mati sebelum sempat dipanen untuk dinikmati sebagai sayur.
Bunyi air yang mengalir dari pipa paralon terdengar seperti hal biasa, namun suara itu, bagi Arif, bukan sekadar ritme harian, melainkan rekam jejak perjalanan panjang tentang kegagalan yang hampir membuatnya berhenti menanam hidroponik.
Ia naik ke loteng berulang kali hanya untuk melihat hal yang sama, kegagalan yang diam, tanpa penjelasan. Di satu titik, ia hanya duduk diam cukup lama. Bukan karena menyerah, tetapi karena tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tanaman hidroponiknya.
Pemuda asal Kecamatan Kedungjajang itu bukan lulusan jurusan pertanian, melainkan seorang sarjana ekonomi syariah dan pernah bekerja sebagai sales marketing di satu perusahaan.
Hidroponik bukan jalan yang ia rencanakan, melainkan sesuatu yang ia temukan dari video dan penjelasan di internet, kemudian ia memulai tanpa keyakinan penuh dan mencoba dengan 70 botol bekas itu. Saat mencoba mempraktikkan ilmu dari media sosial berbasis video itu, ia dihadapkan pada pertanyaan yang terus bergelayut dan berulang di benaknya, kenapa tidak berhasil?
Perlahan, namun pasti, Arif mulai mencatat, mengamati, dan mengulang. Perlahan pula, ia menyadari sesuatu yang sederhana, yakni dirinya tidak sedang gagal menanam, tetapi belum memahami sistemnya, sistem hidroponik.
Bersama istrinya, Arif memindahkan percobaan ke pendekatan baru. Loteng yang sama diubah menjadi sistem hidroponik kecil dengan 340 lubang tanam. Pipa disusun ulang, aliran air diperbaiki, dan nutrisi diracik ulang.
Namun, kegagalan tidak langsung pergi. Kenyataan baru mengemuka, yakni ada pagi dengan pompa air tidak berjalan dan siang dengan aliran nutrisi tersendat, kemudian sore dengan rasa khawatir, ketika ia naik ke loteng hanya untuk memastikan semua tanamannya masih hidup.
Di fase itu, tubuhnya ikut berubah, karena tidurnya berkurang. Waktu istirahat tidak teratur dan tangan sering basah oleh air nutrisi. Meskipun demikian, ia tetap naik ke loteng itu setiap hari, bukan karena yakin, tetapi karena sudah telanjur berjalan jauh untuk usaha hidroponik itu.
Istrinya menjadi bagian yang tidak banyak terlihat, tetapi selalu ada dan menghiburnya. Kadang diam, kadang bertanya apakah usaha itu layak diteruskan. Tidak selalu yakin, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan proses tersebut.
Suatu pagi, seperti biasa, ia naik ke loteng. Kali ini, Arif tidak langsung menemukan kerusakan. Sebaliknya , ia menemukan beberapa tanaman berdiri, menegakkan harapan baru. Tidak banyak tanaman yang berdiri, tapi cukup membuatnya berjeda dari rasa lelah. Menemukan kenyataan itu, ada keheningan yang berbeda.
Kesabarannya memberikan hadiah, berupa perubahan pada tanaman hidroponik yang ditanamnya. Perubahan tidak datang dalam bentuk kemenangan besar. Ia hadir sebagai tanda kecil yang hampir tidak terasa. Setidaknya, tanamannya tidak lagi mati serentak.
Selada yang ditanam mulai hijau lebih stabil, akar mulai bertahan. Memang tidak sempurna, tetapi cukup untuk membuat Arif berhenti menganggap bahwa semua yang dilakukan untuk berkebun hidroponik gagal total.
Semangat pantang menyerahnya akhirnya membuahkan hasil dan panen pertama sayuran selada hidroponiknya membuat ia tersenyum. Hasil panen itu tidak dijual. Ia bawa turun dan membagikannya ke tetangga sekitar.
Beberapa warga yang diberi sayuran secara gratis, kemudian bertanya kalau sayuran itu dijual, mereka bersedia membelinya. Hal itu yang menjadi titik balik Arif untuk lebih serius menekuni usaha sayuran hidroponiknya.
Permintaan mulai muncul, tidak banyak, tetapi cukup untuk mengubah cara ia memandang pekerjaannya sendiri. Di titik itu, keputusan datang dan ia meninggalkan pekerjaannya sebagai sales marketing.
Kemudian ia mengambil pinjaman modal Rp65 juta di perbankan. Di balik angka itu, tentu ada tekanan yang tidak terlihat, yakni angsuran untuk membayar cicilan, tanggung jawab menafkahi keluarga, dan kemungkinan gagal untuk kesekian kalinya.
Arif duduk terdiam, bukan menghitung keuntungan dan kerugian, tetapi menghitung kemungkinan bertahan dan usaha pertanian hidroponiknya terus bergerak dan semakin diperluas.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































