Elegi perajin tahu yang menolak menyerah

2 hours ago 3
Mereka adalah pejuang yang tidak mengenakan baju zirah, melainkan celemek yang basah oleh keringat

Kulon Progo (ANTARA) - Di sudut-sudut Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat kabut pagi masih memeluk lereng-lereng perbukitan, suara mesin penggilingan kedelai telah lebih dulu menderu.

Deru mesin itu adalah sebuah simfoni kehidupan, sebuah nyanyian konstan yang tetap bersahutan di tengah riuhnya pasar yang kian mencekik.

Meski harga kedelai yang menjadi bahan baku utama dari tahu-tahu yang mereka produksi telah melonjak menembus angka Rp10.700 per kilogram, para perajin di desa itu tetaplah serupa akar pohon yang menghujam bumi; teguh meski diterpa badai yang tak kunjung usai.

Bagi mereka, kenaikan harga bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah beban yang menghimpit, sebuah ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan melambungnya harga minyak goreng dan kayu bakar. Namun, di dapur-dapur produksi yang hangat oleh uap air, tidak ada keluh kesah yang meluap menjadi amarah. Yang ada hanyalah kepasrahan yang dibalut dengan keteguhan hati.

Mereka adalah para penjaga tradisi yang menolak untuk mematikan tungku, meski margin keuntungan mereka kian hari kian menipis, seolah tersapu oleh arus zaman yang tak ramah.

Afi, seorang perajin tahu yang telah lama menggantungkan harapannya pada putihnya sari kedelai, menatap masa depan dengan sorot mata yang teduh namun waspada.

Baginya, kenaikan harga bahan baku adalah riak kecil dalam samudra kehidupan usaha yang telah ia jalani bertahun-tahun. Ketakutannya bukanlah pada harga, melainkan pada gempuran persaingan yang kian sengit, di mana tahu-tahu dari tanah lain datang menjajakan diri dengan harga yang lebih ramah. Namun, ia tak lantas menyerah.

"Sekarang yang penting bertahan, usaha tetap jalan," katanya dengan suara setengah berbisik. Dia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang memikul beban tanggung jawab bagi banyak keluarga yang bergantung pada usahanya.


Di balik tembok

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |