Melestarikan Badak Kalimantan lewat bayi tabung

1 week ago 6
Ini adalah sebuah ikhtiar terakhir, sebuah perjuangan panjang agar generasi mendatang tidak hanya mengenal badak Kalimantan dari buku atau arsip sejarah, tetapi masih dapat menyaksikannya berjalan bebas di hutan-hutan Kalimantan yang rimbun.

Samarinda (ANTARA) - Di balik rimbunnya hutan pedalaman Kalimantan Timur, tersimpan sebuah kisah yang menegangkan. Di tengah tekanan kerusakan lingkungan dan isolasi habitat, nasib satu subspesies langka kini berada di ujung tanduk.

Saat ini, hanya tersisa dua ekor Dicerorhinus sumatrensis harrissoni atau yang lebih dikenal sebagai badak Kalimantan. Lebih mengkhawatirkan lagi, keduanya merupakan betina. Sementara itu, waktu terus berjalan.

Menyadari ancaman kepunahan yang semakin nyata, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menggelar pertemuan penting pada 8 Juni 2026 di Balikpapan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penyelamatan Badak Pari Mahakam Ulu (Mahulu).

Rakor ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi titik balik sekaligus langkah darurat, bahkan mungkin kesempatan terakhir bagi Indonesia untuk mencegah satwa langka tersebut lenyap selamanya dari muka bumi.

Dari dua badak yang tersisa, salah satunya adalah Pahu, badak yang kini hidup dalam pengawasan ketat di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur.

Sementara itu, badak lainnya adalah Pari Mahulu, yang menjadi perhatian dunia konservasi karena merupakan satu-satunya badak Kalimantan yang masih hidup bebas di alam liar. Namun, Pari hidup dalam kondisi terisolasi, tanpa pasangan dan tanpa pejantan, sehingga tidak memiliki peluang untuk berkembang biak secara alami.

Keberadaan Pari di hutan Kabupaten Mahakam Ulu ibarat berlian yang tersembunyi. Nilainya sangat berharga, tetapi ancaman kehilangannya juga begitu besar.

Pari terjebak dalam kesendirian. Ia tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan garis keturunannya. Jika suatu hari ia mati sebelum sempat diselamatkan, maka seluruh materi genetik, jejak evolusi, dan harapan untuk mempertahankan subspesies ini berisiko hilang bersamanya.

Karena itu, membiarkan Pari tetap terisolasi merupakan risiko yang terlalu besar. Jika ia mati tanpa terpantau, maka kepunahan badak Kalimantan akan menjadi kenyataan. Kalimantan Timur, bahkan Indonesia, akan kehilangan salah satu kekayaan keanekaragaman hayatinya.

Atas dasar itu, keputusan besar pun diambil. Pari harus ditranslokasi atau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Translokasi ini bukan sekadar memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain. Langkah tersebut merupakan upaya menyelamatkan warisan genetik terakhir yang masih dimiliki badak Kalimantan.

Baca juga: BKSDA Kaltim simulasi translokasi badak pari Kalimantan

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |