Material isolasi baterai 1300°C tingkatkan keamanan EV

1 week ago 5

Jakarta (ANTARA) - Tim peneliti dari Nanjing Tech University, China dikabarkan tengah mengembangkan material isolasi baterai lithium yang mampu menahan suhu hingga 1.300 derajat Celsius sebagai upaya meningkatkan keselamatan kendaraan listrik (EV).

Inovasi ini hadir di tengah dorongan industri China untuk memperkuat aspek keamanan baterai, terutama dalam mengantisipasi risiko thermal runaway atau lonjakan suhu ekstrem pada sel baterai.

Laporan yang dikutip Carnewschina dari Science and Technology Daily pada Jumat (17/4) waktu setempat, menyebutkan material pengaman berupa lembar isolasi berbasis aerogel silika yang dirancang untuk memperlambat perpindahan panas antarsel baterai lithium-ion.

Pada kondisi thermal runaway, suhu sel dapat meningkat drastis dalam hitungan detik dan menyebar ke sel lain, sehingga berpotensi memicu kebakaran.

Dalam pengujian, lembar dengan ketebalan 2,3 milimeter yang terpapar suhu 1.000 derajat Celsius selama lima menit mampu menjaga sisi sebaliknya tetap berada di bawah 100 derajat Celsius.

Baca juga: China perketat aturan daur ulang baterai lithium kendaraan listrik

Selain itu, material ini diklaim dapat mempertahankan isolasi termal hingga dua jam.

Peneliti menyebutkan, teknologi aerogel sebelumnya umumnya hanya mampu bertahan pada suhu sekitar 300 derajat Celsius, sementara suhu pembakaran sel baterai dapat mencapai 650 hingga 1.000 derajat Celsius. Dengan peningkatan ini, toleransi suhu material berhasil ditingkatkan hingga dua kali lipat.

Struktur aerogel sendiri terdiri dari jaringan nanopori yang sekitar 99 persen berisi udara, sehingga mampu membatasi konduksi panas.

Tim peneliti meningkatkan ketahanan material dengan memperkuat struktur tersebut serta menyesuaikan kondisi katalis dalam proses sintesis.

Selain itu, material juga direkayasa agar memiliki tingkat kompresi elastis lebih dari 90 persen guna mengatasi sifat rapuh aerogel.

Hal ini penting karena baterai kendaraan listrik mengalami ekspansi dan kontraksi berulang selama penggunaan.

Dari sisi produksi, peneliti mengoptimalkan proses pengeringan karbon dioksida superkritis serta meningkatkan efisiensi melalui pemulihan pelarut.

Tingkat penggunaan ulang etanol dilaporkan mencapai lebih dari 99,5 persen, sehingga mampu menekan biaya bahan baku lebih dari setengahnya.

Material aerogel ini telah digunakan dalam sistem baterai oleh sejumlah perusahaan seperti CATL, BYD, Sungrow, dan Xiaomi.

Selain untuk kendaraan listrik, material ini juga diterapkan pada sektor dirgantara dan industri bersuhu tinggi.

Baca juga: Gotion bangun pabrik baterai solid-state 2 GWh dukung debut EV di 2026

Baca juga: China akan merilis standar baterai solid-state pada Juli 2026

Baca juga: China mulai pelaporan jejak karbon baterai kendaraan listrik pada 2026

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |