LPEI sebut aktivitas ekspor tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik

2 hours ago 3

Nganjuk, Jawa Timur (ANTARA) - Direktur Pelaksana Bisnis II Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Sulaeman menyatakan aktivitas ekspor nasional masih terjaga di tengah gejolak geopolitik yang melanda.

Sebagaimana diketahui, konflik di Timur Tengah turut memicu sejumlah gangguan dalam perdagangan global, antara lain kelangkaan bahan baku plastik akibat krisis di Selat Hormuz serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Sekarang ini sampai posisi terakhir, dari semua pipeline yang kita miliki itu masih ongoing itu, masih running well,” ujar Sulaeman dalam acara kunjungan media di Gresik, Jawa Timur, Jumat.

Untuk menjaga kinerja ekspor, LPEI mengandalkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang memberikan dukungan pembiayaan menyeluruh, mulai dari tahap praekspor hingga pascaekspor, serta fasilitas penjaminan bagi pelaku usaha.

Selain itu, LPEI juga melakukan langkah antisipatif melalui stress testing terhadap portofolio pembiayaan ekspor guna mengidentifikasi sektor dan debitur yang paling terdampak, terutama yang memiliki eksposur ke kawasan Timur Tengah.

Di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini, LPEI turut memantau dampak gangguan rantai pasok global dan pelemahan rupiah yang berpotensi memengaruhi kinerja debitur.

Berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, termasuk memastikan pemilihan produk pembiayaan dengan underlying transaksi yang jelas, baik untuk pembiayaan pra-pengiriman maupun pascapengiriman.

Sulaeman merinci lebih lanjut bahwa mandat utama LPEI saat ini adalah mendorong peningkatan ekspor nasional melalui dua skema pembiayaan, yakni PKE dan pembiayaan komersial, dengan fokus saat ini pada skema PKE.

Setiap pembiayaan dalam skema PKE memiliki efek pengganda signifikan, di mana setiap Rp1 yang disalurkan dapat menciptakan dampak pembangunan hingga tiga kali lipat.

Secara keseluruhan, nilai pembiayaan PKE saat ini mencapai Rp13,7 triliun yang tersebar dalam enam program dan tujuh proyek.

Hingga 2025, fasilitas PKE Trade Finance telah memiliki total limit sebesar Rp3,35 triliun dengan realisasi penyaluran mencapai Rp7,68 triliun sepanjang tahun tersebut.

Sektor makanan olahan menjadi kontributor terbesar dalam portofolio tersebut dengan porsi 39 persen atau mencakup 31 debitur. Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau 18 sektor industri, antara lain karet, kopi, furnitur, alas kaki, tekstil, perhiasan, teh dan rempah, hingga produk elektronik.

“Selain memberikan dukungan finansial bagi pelaku usaha, PKE Trade Finance juga berperan dalam mendorong terciptanya dampak pembangunan. Sepanjang tahun 2025, penyaluran PKE Trade Finance telah berkontribusi terhadap penciptaan dan/atau penghematan devisa sebesar Rp21,12 triliun,” ujarnya.

Meski demikian, Sulaeman mengingatkan agar pelaku usaha tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan dari gejolak global, khususnya terhadap kenaikan harga bahan baku yang berpotensi menekan margin, terutama di sektor manufaktur.

LPEI sendiri telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi serta lebih selektif dalam menentukan sektor pembiayaan yang dinilai relatif aman di tengah kondisi saat ini.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Mega Global Food Industry (Kokola Group) Richard Cahadi menyampaikan bahwa dukungan pembiayaan dari LPEI berperan penting dalam menjaga kelangsungan produksi di tengah gangguan rantai pasok global.

Ia menjelaskan konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan baku plastik akibat terganggunya suplai naphta, sehingga perusahaan harus memastikan ketersediaan bahan kemasan agar produksi tidak terhambat.

Dalam hal ini, skema pembiayaan PKE membantu menjaga likuiditas perusahaan, terutama ketika pemasok menerapkan sistem pembayaran di muka.

"Kalau kami tidak didukung LPEI, kami pasti akan kesulitan cashflow untuk beli bahan baku dulu. Bahan baku plastik itu kan minyak bumi yang mana rantai pasoknya memang terdisrupsi. Tugas utama kami sebagai supplier mengamankan itu dulu. Dan salah satu keuntungan kita disupport oleh LPEI," ujar Richard.

Baca juga: LPEI dorong eksportir ekspansi ke pasar nontradisional

Baca juga: Ekonom: Perjanjian dagang perkuat upaya pengalihan pasar ekspor

Baca juga: LPEI: Dampak konflik Timur Tengah ke perdagangan RI masih terbatas

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |