Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyatakan, tantangan penanganan semakin besar karena lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini banyak berada jauh dari kawasan perkotaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Sabtu, menjelaskan kondisi medan membuat mobilisasi personel maupun peralatan pemadam menjadi lebih sulit.
“Banyak obstacle atau kendala-kendala lapangan. Karena kebakaran ini tidak terjadi lagi di dekat-dekat kota,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, petugas terkadang harus menggunakan kendaraan roda tiga hingga berjalan kaki untuk mencapai titik kebakaran.
Persoalan lainnya adalah ketersediaan sumber air yang belum tentu berada di sekitar lokasi kejadian, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
“Kadang-kadang menggunakan roda tiga, berjalan kaki, kemudian belum tentu air di lokasi kebakaran itu ada,” ujarnya.
Baca juga: BPBD minta bantuan heli bom air atasi karhutla di Kotawaringin Timur
Menurut Multazam, karakteristik kebakaran lahan, khususnya di kawasan gambut, juga berbeda dengan kebakaran bangunan.
Jika kebakaran bangunan dapat ditangani dengan pengerahan air secara intensif dalam waktu relatif singkat, api pada lahan gambut dapat bertahan jauh lebih lama.
“Kalau kita bicara kebakaran bangunan 1-2 jam dengan kita gempur bersama-sama selesai. Kalau kebakaran gambut, bisa berdurasi sembilan jam di situ saja,” katanya menjelaskan.
Selain kejadian dan luasan lahan terbakar, ancaman karhutla juga tercermin dari tingginya jumlah titik panas. Akumulasi hotspot di Kotim sejak Januari hingga 20 Agustus 2026 telah mencapai 6.139 titik yang tersebar di seluruh kecamatan.
Kecamatan Teluk Sampit tercatat sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 1.066 titik. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemantauan sekaligus pencegahan agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Data tersebut sekaligus memperlihatkan penanganan karhutla di Kotim membutuhkan pendekatan lebih luas, bukan hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.
“Data tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran yang membutuhkan penanganan tidak hanya melalui pemadaman, tetapi juga pencegahan dan dukungan lintas sektor,” demikian Multazam.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 20 Agustus 2026, tercatat sebanyak 401 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 1.394 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Baca juga: Wamenko Pangan tinjau karhutla Kalteng tegaskan kehadiran pemerintah
Baca juga: Kualitas udara di Kota Palangka Raya sentuh kategori berbahaya
Pewarta: Muhammad Arif Hidayat/Devita Maulina
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































