Jakarta (ANTARA) - Ada satu kalimat yang selalu kita ucapkan saat merayakan Lebaran: "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin."
Kalimat itu diucapkan dengan senyum, dengan pelukan, dengan harapan bahwa semua yang retak selama setahun bisa kembali utuh dalam sekejap. Seolah-olah, kita semua sepakat pada hari itu untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih pemaaf, dan lebih bahagia.
Namun, di balik suasana yang tampak hangat dan penuh suka cita, ada satu hal yang jarang dibicarakan, bahwa Lebaran tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga kewajiban untuk terlihat bahagia.
Arlie Russell Hochschild, seorang sosiolog terkemuka di Universitas California, dalam karyanya The Managed Heart (1983) memperkenalkan konsep emotional labor (kerja emosional). Kerja emosional merupakan upaya individu untuk mengelola perasaan mereka agar sesuai dengan harapan sosial.
Awalnya konsep ini digunakan untuk menjelaskan pekerjaan seperti pramugari atau pekerja layanan yang dituntut untuk selalu bersikap ramah. Jika diperluas, Lebaran bisa dibaca sebagai momen ketika seluruh masyarakat, secara kolektif, melakukan kerja emosional.
Lebaran bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita rasakan. Atau lebih tepatnya, apa yang diharapkan untuk kita rasakan. Pada hari itu, kita diharapkan untuk bahagia. Kita diharapkan untuk memaafkan. Kita diharapkan untuk merasa damai. Bahkan, kita diharapkan untuk menampilkan semua itu secara terbuka di hadapan orang lain.
Masalahnya, perasaan tidak selalu tunduk pada kalender. Tidak semua orang benar-benar merasa bahagia saat Lebaran. Sebab ada yang pulang kampung dengan beban ekonomi. Ada yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan. Seperti kapan menikah, kapan punya anak, kerja di mana sekarang, gajinya berapa, dan sebagainya.
Ada juga yang harus pulang dengan perasaan gagal karena belum memenuhi ekspektasi keluarga. Ada pula yang tidak bisa pulang sama sekali karena satu dan lain hal.
Terlepas dari itu semua, di tengah suasana Lebaran, ekspresi yang ditampilkan tetap harus sama: senyum, pelukan, dan ucapan maaf.
Di sinilah terjadi paradoks. Di satu sisi, Lebaran adalah momen yang sangat personal, tentang keluarga, tentang hubungan emosional, tentang refleksi diri. Namun di sisi lain, Lebaran juga sangat sosial, penuh dengan norma, ekspektasi, dan bahkan tekanan.
Baca juga: Pemikir Islam: Idul Fitri momen asah dan mantapkan toleransi beragama
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































