Jakarta (ANTARA) - Gelar juara umum yang diraih tim para-atletik Indonesia pada World Para Athletics Grand Prix 2026 di Tunisia menjadi penanda bahwa prestasi olahraga disabilitas nasional terus bergerak di jalur yang konsisten.
Dalam kejuaraan yang berlangsung pada 12–20 Juni dan diikuti 58 negara itu, kontingen Merah Putih mengoleksi 15 medali emas, tujuh perak, dan tujuh perunggu. Raihan tersebut menempatkan Indonesia di puncak klasemen bersama Ukraina yang membukukan jumlah medali identik.
Hasil ini memperpanjang daftar capaian para-atlet Indonesia di level internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Jika sebelumnya mereka mampu menunjukkan daya saing di Paralimpiade Paris dan ASEAN Para Games, Tunisia kembali menjadi saksi bahwa performa tersebut bukan keberhasilan sesaat. Indonesia tetap mampu bersaing dalam kompetisi resmi kalender World Para Athletics yang menjadi salah satu tolok ukur kekuatan para atletik dunia.
Meski demikian, di balik raihan sebagai juara umum, Tunisia belum dapat dipandang sebagai garis akhir. Bagi tim pelatih, hasil tersebut justru menjadi bagian dari tahapan yang lebih besar, yakni mengantarkan sebanyak mungkin tiket menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang.
Kontribusi medali emas Indonesia masih banyak ditopang atlet-atlet yang selama ini menjadi tulang punggung tim nasional.
Saptoyogo Purnomo kembali menunjukkan konsistensinya di nomor sprint dengan menyumbangkan tiga medali emas dari nomor 100 meter T37, 200 meter T37-T38, dan estafet universal 4x100 meter. Saptoyogo bukan nama baru di panggung internasional. Dalam beberapa musim terakhir, ia terus menjaga performanya di berbagai kejuaraan dunia sehingga menjadi salah satu atlet paling konsisten yang dimiliki Indonesia.
Kontribusi serupa datang dari Nanda Mei Sholihah. Atlet tersebut membawa pulang tiga medali emas melalui nomor 100 meter T46-47, 200 meter T46-47, dan estafet universal 4x100 meter.
Sementara itu, Karisma Evi Tiarani kembali mempertegas kapasitasnya sebagai salah satu atlet terbaik Indonesia dengan meraih dua emas dari nomor 100 meter putri T36/42/44 dan lompat jauh putri.
Dominasi nama-nama berpengalaman memang menjadi kekuatan utama Indonesia. Namun, di Tunisia juga hadir sinyal positif mengenai regenerasi. Salah satunya datang dari Alfin Nomleni asal Nusa Tenggara Timur yang tampil sebagai juara nomor 400 meter T20 dengan catatan waktu 48,82 detik.
Prestasi Alfin memiliki makna lebih dari sekadar tambahan satu medali emas. Atlet muda itu mengaku sempat kehilangan kepercayaan diri saat melihat postur para pesaingnya yang lebih tinggi. Namun, keraguan itu mampu ditepis di lintasan hingga akhirnya finis sebagai yang tercepat.
Seusai memastikan kemenangan, Alfin menegaskan targetnya tidak berhenti di Tunisia. Ia sudah membidik Asian Para Games 2026 dan Paralimpiade 2028 sebagai sasaran berikutnya.
Baca juga: Indonesia raih juara umum World Para Athletics Grand Prix 2026
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































