Korea Selatan "tak mampu" lambatkan pengembangan AI

5 hours ago 3

Islamabad (ANTARA) - Korea Selatan tidak bisa membiarkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) melambat ketika negara tersebut berupaya mengejar para pemimpin global bidang AI dan menciptakan pasar baru, kata Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi Korea Selatan Bae Kyung-hoon.

"Menyesuaikan laju perkembangan, bagi negara yang sudah maju, adalah hal yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan negara yang sedang mengejar ketertinggalan sekaligus harus menciptakan pasar baru. Kami tidak bisa membiarkan laju pengembangan AI melambat," kata Bae dalam sebuah unggahan di media sosial seperti dikutip Yonhap News pada Rabu (15/9).

Bae pun memperingatkan bahwa kesenjangan antara negara dengan model AI mutakhir yang mendekati kecerdasan manusia dan negara tanpa kecanggihan tersebut dapat meluas melampaui ranah teknologi, hingga mencakup daya saing industri, keamanan nasional, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Namun, dia mengingatkan agar tidak melakukan percepatan tanpa syarat, dengan menyatakan bahwa keamanan AI dan kepercayaan masyarakat harus sejalan dengan perkembangan teknologi.

Baca juga: OpenAI, Anthropic, dan Google bahas penguatan aspek keamanan AI

Pernyataan Bae itu muncul di tengah perdebatan global yang semakin memanas mengenai kecepatan perkembangan teknologi AI.

CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan Elon Musk dari SpaceXAI menyerukan agar pengembangan AI diperlambat agar langkah-langkah keselamatan dapat mengejar kemajuan teknologi. Seruan itu dibarengi dengan usulan pengawasan yang lebih independen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak seruan tersebut dengan menyebut bahwa kekhawatiran AI dapat mengancam umat manusia sebagai "hoaks". Menurut Trump, memperlambat pengembangan AI di Amerika Serikat justru dapat menguntungkan China.

China pun menolak pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa "menebar ketakutan, konfrontasi, dan persaingan yang merusak" akan menghambat tata kelola AI global.

China menyerukan pengembangan teknologi dilakukan secara terbuka dan inklusif.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Forum etika AI UNESCO dibuka di Riyadh, serukan tata kelola praktis

Baca juga: Pengamat nilai kebijakan AI Indonesia sejalan dengan arah global

Penerjemah: Primayanti
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |