Kolaborasi dan konsensus menjadi kunci untuk AI yang inklusif

1 week ago 8

Beijing (ANTARA) - Dalam lanskap teknologi yang terus berkembang saat ini, komunitas global perlu memperkuat kerja sama untuk mendorong pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang inklusif dan berkelanjutan demi kepentingan seluruh umat manusia.

Pernyataan yang ditandatangani oleh sekitar 60 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Aksi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence Action Summit di Paris baru-baru ini menyerukan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas AI dan memastikan teknologi tersebut tetap terbuka, inklusif, transparan, etis, aman, serta dapat dipercaya.

Teknologi AI global berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan munculnya berbagai terobosan, model-model bisnis inovatif, serta banyak aplikasi. Para raksasa teknologi di berbagai negara juga meningkatkan investasi mereka secara signifikan di sektor ini. Meskipun membawa peluang penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial, pengembangan AI juga menghadapi risiko tak terduga dan berbagai tantangan kompleks, sehingga konsensus dalam tata kelola AI global menjadi sangat penting.

China menekankan keterbukaan, inklusivitas, dan manfaat bersama untuk membantu menjembatani kesenjangan digital global. Saat China mengejar pembangunannya, China juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan AI global.

Menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO), dari 2014 hingga 2023, China mengajukan lebih dari 38.000 permohonan paten AI generatif, menduduki peringkat pertama di dunia. Negara itu juga memiliki lebih dari 4.500 perusahaan AI, dengan skala industri AI intinya nyaris menyentuh angka 600 miliar yuan (1 yuan = Rp2.243) atau sekitar 83,68 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.365).

Para peneliti menyesuaikan robot humanoid di laboratorium AI di Beijing, China (31/1/2024). ANTARA/Xinhua/Jin Liwang/aa.

Pendekatan China terhadap AI dapat menjadi inspirasi bagi seluruh dunia. Di lingkup domestik, pemerintah China merilis Rencana Pengembangan Kecerdasan Buatan Generasi Baru (New Generation Artificial Intelligence Development Plan) pada 2017, yang menekankan kemajuan AI yang aman, terkendali, dan berkelanjutan.

China juga telah mengeluarkan undang-undang dan pedoman untuk regulasi AI. Di tingkat internasional, China meluncurkan Inisiatif Tata Kelola Kecerdasan Buatan Global (Global Artificial Intelligence Governance Initiative) pada 2023 untuk memberikan solusi China bagi tata kelola AI global dan menyelenggarakan Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Conference/WAIC) setiap tahun sejak 2018.

Untuk meningkatkan tata kelola AI, negara-negara perlu meningkatkan pertukaran informasi serta kerja sama teknologi. Mereka juga harus mengembangkan kerangka kerja, norma, dan standar tata kelola AI yang berbasis pada konsensus luas. Pendekatan ini akan membantu menjadikan teknologi AI lebih aman, andal, dapat dikendalikan, dan adil.

Setiap negara mungkin memiliki perspektif etika dan moral yang berbeda, menjadikan tata kelola AI global sebagai tantangan yang mendesak. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat kerja sama internasional, mendorong koordinasi, serta membangun konsensus antarnegara.

Untuk mewujudkan hal ini, masyarakat internasional harus bersama-sama menolak praktik yang bermotif ideologis atau kelompok eksklusif yang menghambat pengembangan AI negara lain. Selain itu, masyarakat internasional harus menolak hambatan yang mengganggu rantai pasokan AI global melalui monopoli teknologi dan langkah koersif sepihak. Inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh menjadi hak istimewa negara-negara kaya atau alat hegemoni.

Kompetisi yang sehat baik bagi semua, tetapi persaingan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kekacauan dan berpotensi menjadi "gray rhino", metafora untuk ancaman yang sangat mungkin terjadi dan berdampak besar. Sangatlah penting untuk merumuskan aturan yang efektif melalui partisipasi dan konsultasi bersama oleh semua negara, guna memastikan AI dan teknologi baru lainnya menjadi "gua harta karun Ali Baba" dan bukan "kotak Pandora".

Sebagai pendukung utama AI yang inklusif sekaligus pemain kunci dalam industri ini, China siap meningkatkan pertukaran serta kerja sama dan tetap berkomitmen mengelola AI untuk kebaikan dan untuk semua. Dunia perlu mendorong dialog dan kolaborasi guna memastikan pertumbuhan AI yang sehat dan berkelanjutan yang bermanfaat bagi semua.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |