Ketika Panglima Tertinggi dianggap lebih berbahaya dari musuh

5 days ago 6
Lihat, presiden mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di medan tempurnya sendiri

Jakarta (ANTARA) - Dalam doktrin militer mana pun di dunia, panglima tertinggi merupakan jantung strategi perang sekaligus simpul terakhir dalam rantai komando, tempat setiap keputusan final diambil.

Namun, laporan yang beredar pada pertengahan April 2026 seputar konflik Iran vs Amerika Serikat membalik logika tersebut: Presiden Donald Trump justru "dikucilkan" dari Situation Room Gedung Putih oleh staf militernya sendiri.

Bukan karena kudeta. Bukan karena makar. Namun, karena para jenderalnya menilai bahwa kehadirannya justru mengganggu operasi.

Sebagai seorang yang pernah menjalani masa dinas di lapangan dan juga di meja diplomasi PBB, saya tidak bisa tidak prihatin. Ini bukan soal perbedaan pendapat taktis. Ini adalah krisis kepercayaan yang sangat dalam antara unsur sipil dan militer di tengah perang terbuka.

Lebih berbahaya dari musuh

Pada 19 April 2026, The Wall Street Journal melaporkan bahwa para ajudan militer AS sengaja menjauhkan Presiden Trump dari Situation Room saat operasi penyelamatan pilot pesawat F-15 yang ditembak jatuh Iran tiga hari sebelumnya. Alasannya klasik, tapi mengerikan: "ketidaksabarannya tidak akan membantu."

Klaim ini tidak berdiri sendiri. France 24 dan CNN, dalam laporan terpisah pada 20 April 2026, mengonfirmasi bahwa para pejabat militer AS khawatir perilaku Presiden yang mudah berubah dan ledakan amarahnya akan membahayakan misi penyelamatan. Sumber-sumber itu bahkan menyebutkan bahwa Trump berteriak kepada stafnya "selama berjam-jam".

Dalam bahasa militer yang halus, tindakan menjauhkan panglima dari ruang komando berarti: "Komandan kami justru menjadi risiko operasional."

Bayangkan kontradiksi ini: Seorang panglima tertinggi seharusnya menjadi force multiplier, pengganda kekuatan. Namun dalam kasus ini, Presiden AS dianggap sebagai liability, beban yang justru membahayakan nyawa prajuritnya sendiri.

Saya pernah bertugas di medan konflik. Saya tahu beratnya tekanan. Namun, ketika para perwira lapangan lebih memilih mematikan akses panglima daripada menyelamatkan misi, itu pertanda bahwa struktur komando telah membusuk dari puncak.

Baca juga: Trump ingin capai 'kesepakatan abadi' dengan 'Iran tanpa nuklir'

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |