Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Rusia untuk ASEAN Evgeny Zagaynov menyampaikan pihaknya membuka ruang untuk berdiskusi dengan negara-negara mitra di Asia Tenggara guna menyesuaikan sistem transaksi dan ekonomi digital.
"Ini adalah sesuatu yang terbuka untuk kami diskusikan dengan mitra kami di Asia Tenggara baik secara bilateral maupun dengan ASEAN sebagai sebuah organisasi. Ini adalah isu yang kami usulkan untuk didiskusikan dengan mitra kami," kata Dubes Zagaynov di Jakarta, Rabu.
Sementara itu, ASEAN dan Rusia akan memerlukan waktu untuk mencapai target perdagangan sebesar 100 miliar dolar AS (setara Rp1,797 kuadriliun).
"Ini target yang sangat ambisius, tetapi tentu saja akan membutuhkan waktu, khususnya dengan mempertimbangkan situasi geopolitik saat ini dan pembatasan hukum yang telah diberlakukan terhadap Rusia," kata Zagaynov.
Baca juga: RI-Rusia optimalkan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral
Dia juga menyebut tantangan utama dalam memperluas perdagangan dengan ASEAN berasal dari upaya negara-negara Barat yang menghambat kerja sama Rusia dengan Asia Tenggara dan negara berkembang lain.
Bentuk hambatan itu berupa pembatasan keuangan yang dinilai tidak sah, serta ancaman sanksi sekunder terhadap mitra yang tidak dapat diterima.
"Kita perlu menentang ancaman tersebut, dan kita perlu menemukan jalan yang tepat bersama dengan mitra kita di kawasan ini," tambahnya.
Pembatasan itu secara langsung berpengaruh terhadap Rusia dan negara-negara mitra Rusia di ASEAN, karena menghambat upaya Rusia untuk berkontribusi pada pembangunan kawasan.
Baca juga: Dubes: Rusia sedang jajaki peluang kerja sama tenaga kerja dengan RI
Sektor energi bisa menjadi prioritas perdagangan antara ASEAN dan Rusia, baik energi tradisional, energi nuklir, transisi energi, maupun ekonomi digital.
"Jadi, salah satu tugasnya adalah mengatasi masalah logistik ini, aspek keuangan kerja sama kami, dan mengerjakan skema keuangan alternatif untuk melanjutkan kerja sama bilateral kami," ujarnya.
Sebelumnya, Selasa (23/6), Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bersama antara Indonesia dan Rusia antara lain bertujuan mengurangi risiko tekanan fiskal global.
Dengan memperluas pembayaran dengan mata uang nasional, kerja sama bilateral dapat diharapkan dapat semakin kuat dan meningkat.
Baca juga: Dubes: Rusia siap untuk kesepakatan damai dengan Ukraina
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































