Kenapa ban lebih rentan aus dan retak saat musim kemarau?

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Musim kemarau dengan suhu jalan yang lebih tinggi dapat mempercepat keausan hingga memicu retak pada ban kendaraan sehingga pengendara perlu lebih memperhatikan tekanan angin dan kondisi tapak ban demi menjaga keselamatan berkendara.

“Peningkatan suhu pada ban saat berkendara, terutama di musim kemarau, merupakan kondisi yang normal," papar National Sales Manager Passenger Car Radial PT Hankook Tire Sales Indonesia (HTSI).Apriyanto Yuwono dalam keterangan tertulis, Selasa.

"Namun, apabila suhu dan tekanan angin di dalam ban meningkat secara berlebihan, kondisi tersebut dapat mengurangi daya cengkeram hingga meningkatkan risiko pecah ban. Karena itu, penting bagi pengguna SUV (sport utility vehicle) untuk memeriksa tekanan angin secara berkala, terutama saat kondisi ban masih dingin agar pengendara tidak mengisi tekanan angin secara berlebihan," Apriyanto Yuwono.

Dalam kondisi tersebut, menjaga performa ban tetap optimal menjadi semakin penting, terutama saat kendaraan melintasi permukaan jalan yang rusak.

Temuan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turut menyoroti bahwa faktor internal ban, seperti tekanan angin yang tidak ideal, kerap menjadi salah satu pemicu utama yang memperbesar risiko insiden di jalan tol. Ban yang tidak prima lebih rentan mengalami aus hingga pecah.

Baca juga: Pirelli kembangkan teknologi ban berbasis AI

Cara pilih ban SUV

Apriyanto menjelaskan, untuk meminimalkan risiko aus dan retak pada ban, pengguna mobil berjenis SUV perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

Desain tapak

Desain tapak dengan profil kotak (square profile) membantu menyebarkan beban kendaraan secara merata ke seluruh permukaan ban, sehingga mobil lebih stabil dan mencegah keausan ban yang tidak merata akibat tekanan berlebih di satu titik atau pada permukaan tertentu saja.

Kekuatan struktur tapak

Pola tapak dengan tingkat kekakuan yang tinggi membantu menjaga bentuk dan kestabilan permukaan ban saat suhu jalan meningkat, terutama ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi atau membawa beban berat.

Karakter pengguna

Untuk penggunaan harian di jalan aspal, ban dengan fokus pada kenyamanan, kestabilan, dan tingkat kebisingan rendah akan lebih optimal digunakan.

Sementara itu, untuk perjalanan dengan beban berat atau medan yang lebih menantang, diperlukan ban dengan daya tahan struktur, kekuatan tapak, serta kemampuan traksi yang lebih tinggi agar performa dan keamanan tetap terjaga.

Baca juga: Hankook perkuat kualitas karet lewat program berkelanjutan pada petani

Tapak ban (tread) juga memiliki fungsi utama dalam menjaga traksi sekaligus mendistribusikan tekanan secara merata, mengurangi akumulasi panas dan menjaga keausan tetap seimbang.

“Pengguna SUV perlu memahami bahwa ban bukan hanya komponen pelengkap, tetapi bagian penting dari sistem keselamatan kendaraan. Teknologi distribusi tekanan dan struktur tapak yang kuat membantu mengurangi risiko blowout sekaligus meningkatkan efisiensi jangka panjang,” tambah Apriyanto.

Ia menambahkan, Hankook menghadirkan lini Dynapro sebagai solusi untuk berbagai kebutuhan pengguna SUV yang dirancang untuk kenyamanan premium, tingkat kebisingan rendah, pengalaman berkendara yang halus dan stabilitas tinggi di jalan aspal.

Adapun Dynapro HT difokuskan pada daya tahan maksimal, dengan struktur yang lebih kuat dan ketahanan aus lebih tinggi, sehingga cocok untuk perjalanan jarak jauh dengan intensitas berkendara yang tinggi maupun perjalanan jarak jauh.

Kedua produk tersebut mengusung konsep efisiensi jangka panjang (economy of durability) melalui umur pakai yang lebih panjang dan performa yang konsisten.

Baca juga: Mengenal peran penting ban untuk menjaga efisiensi EV

Baca juga: Alasan ban EV dan mobil konvensional didesain berbeda

Baca juga: Sailun Group bawa dua ban terbaru di GIICOMVEC 2026

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |